Kompasnasional l Sejarah pemilihan presiden (pilpres) langsung di Indonesia sejak 2004 selalu memunculkan figur calon presiden dari kalangan militer. Pilpres 2024 pun diprediksi sama. Bahkan, kali ini figur militer yang meramaikan bursa capres lebih banyak dibanding pilpres-pilpres sebelumnya.
Sejauh ini ada lima jenderal TNI yang disebut-sebut punya kans nyapres. Tiga di antaranya jenderal bintang empat, yakni mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, dan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko. Sedangkan dua lainnya merupakan jenderal bintang tiga, yakni Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Prabowo Subianto, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo.
Satu capres berlatar belakang militer lainnya namun bukan berpangkat jenderal yang juga berpeluang, yakni Mayor (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menarik menantikan siapa dari nama-nama ini yang akan menjadi perwakilan kalangan militer di pilpres nanti? Berikut analisa singkat mengenai figur TNI yang diprediksi berpeluang menjadi capres.
Dari sekian banyak figur militer yang berpotensi maju capres pada 2024, kans terbesar dimiliki Prabowo Subianto. Ada sejumlah alasan. Pertama, dari sisi elektabilitas, mantan Danjen Kopassus ini masih di papan atas tokoh yang paling diunggulkan jadi capres. Hasil urvei IPI pada September 2020, elektabilitas Prabowo nomor dua dengan 16,8%. Berdasarkan survei Populi Center pada November 2020, elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut malah di posisi pertama dengan 18,3%.
Sebenarnya, bukan hal yang mengejutkan jika elektabilitas Prabowo masih moncer. Dengan modal capres dua kali berturut-turut pada 2014 dan di 2019, sangat lumrah jika elektabilitasnya masih tinggi. Namun, apakah rating Prabowo tersebut akan bertahan hingga 2024? Masih perlu pembuktian. Salah satu keuntungan Prabowo adalah saat ini dia punya ‘panggung’ untuk menjaga pamornya. Jabatan sebagai Menteri Pertahanan bisa ia manfaatkan untuk menunjukkan kinerja yang baik agar dukungan publik terjaga.
Kedua, Prabowo memiliki partai. Artinya, kendaraan politik untuk kembali maju capres bukan hal yang susah baginya. Gerindra partai terbesar ketiga di parlemen saat ini dengan 78 kursi. Sehingga, untuk mengusung capres-cawapres—meskipun nanti presidential threshold tetap 20%—Gerindra hanya perlu kaolisi dengan satu atau dua partai.(SN/Red)








