Home / Berita / Daerah / Ekonomi / Medan / Nasional / Reviews

Selasa, 24 Juli 2018 - 12:13 WIB

Kerusakan Hutan KEL Aceh Capai 3.920 Hektare Hingga Juli 2018

Ilustrasi Kerusakan Hutan

Ilustrasi Kerusakan Hutan

Viewer: 2526
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 51 Detik

KompasNasional.com – Kerusakan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh hingga kini masih terus terjadi dan makin meluas di sejumlah wilayah. KEL yang memiliki luas 2,2 juta hektare kini tinggal 1,8 juta hektare lagi karena terus dirusak. Hal ini memperihatinkan dan harus mendapat perhatian serius.

Manager Geographic Information System (GIS) Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HaKA), Agung Dwinurcahya mengatakan, data kerusakan ini diperoleh setelah dilakukan pemantauan. Dengan memanfaatkan teknologi pengindaraan jarak jauh citra satelit.

“Kerusakan hutan di KEL untuk periode Januari sampai Juli 2018 adalah sebesar 3.290 hektare,” katanya dalam konferensi pers di Hotel Kriyad Muraya, Banda Aceh, Aceh (23/7).

Agung mengungkapkan, kerusakan ini memang menurun jika dibandingkan pada tahun sebelumnya, yakni Juli hingga Desember sebesar 3.095 hektare. Namun Defrostasi periode tahun ini cenderung meluas di beberapa kawasan atau kabupaten yang masuk dalam KEL. Perusakan yang terjadi lebih massif.

Baca Juga  Pjs Bupati Samosir Hadiri Deklarasi Penandatanganan Fakta Integritas Pilkada Damai 2020

“Tiga besar kabupaten dengan tingkat keruskan hutan parah ialah Nagan Raya, Aceh Timur, dan disusul Gayo Lues,” sebut Agung.

Rentang angka kerusakan yang terjadi di tiga kabupaten itu tidak terlalu jauh. Yakni Nagan Raya sebesar 672 hektare, Aceh Timur sebesar 559, dan 507 hektere untuk Gayo Lues, yang berada di tengah wilayah Aceh.

“Sebagaian besar deforestasi di Nagan Raya terjadi di dalam kawasan gambut Rawa Tripa. Yang dulu dikenal sebagai ibu kota Orangutan dunia, karena pupulasi Orangutan Sumatera yang tinggi,” ujarnya.

Hingga kini perusakan hutan di kawsan KEL terus berlangsung dan meluas. Lahan yang dibuka atau dirambah digunakan untuk perkebunan baik warga ataupun perusahaan. Ada juga yang khusus untuk menebang pohon yang berada di kawasan hutan lindung.

Baca Juga  Pemerintah Diminta Terapkan Cukai Plastik dan Minuman Berpemanis Tahun Depan

“Kini tutupan hutan di kawasan itu terus menurun akibat maraknya perambahan,” imbuhnya.

Pemantauan yang dilakukan pada Semester pertama 2018 ini, HaKA tidak hanya menyeroti luas hutan yang dirusakan. Selain itu ada juga menitoring pada titik api yang timbul di sejumlah wilayah. Karena perambahan hutan sering dilakukan dengan cara pembakaran lahan.

“HaKA memonitoring titik api mengunakan data dari NASA, satelit VIIRS dan MODIS. Semester pertama titik api di Aceh terdeteksi sebanyak 688,” sambungnya.

Untuk kasus ini, pada Areal Penggunaan Lain (APL) menjadi lokasi yang paling banyak terdeteksi api yaitu sebanyak 440 titik. Sedangkan Hutan Produksi di posisi kedua yakni 100 titik. Terakhir adalah Suaka Margasatwa sebanyak 66 titik.(JPC/TR)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
100 %

Share :

Baca Juga

Berita

Jamin Kelancaran Kegiatan, Babinsa Dedai Beserta Polsek Dedai Kawal Pelaksanaan Tracing oleh Puskesmas Dedai

Berita

Kapolres Nias Selatan sambut kunjungan Pangdan I/BB untuk mempererat hubungan sinergitas TNI – P0LRI.

Berita

Latma TNI AD dengan US Army Berhasil, Pangdam XII/Tpr Apresiasi Delegasi Tim SFAB

Berita

Bupati Halsel Sebut Pemprov Menghambat Pembangunan Jalan Pulau Obi

Berita

Lagi! Pemkab Tapsel Raih Penghargaan Sebagai Kabupaten Layak Anak Nasional 2022

Berita

Wagub Kalbar : Jangan Merasa Puas Kalau Sudah Juara

Berita

PT. PLORIDA SEJAHTERA ABADI KANGKANGI UNDANG-UNDANG KETENAGAKERJAAN.

Arsip

Harga Emas Antam Naik Rp 3.000 ke Posisi Rp 570.000 per Gram