Kompasnasional l Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery) Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik berbasis baterai di Asean.
Menurut dia, Indonesia memiliki beberapa bahan baku penting dalam pembuatan kendaraan listrik atau EV seperti nikel, aluminium, mangan, dan cobalt. Bahkan, untuk nikel Indonesia memiliki 30% dari cadangan nikel dunia dan PT Antam Tbk mempunyai cadangan nikel yang cukup besar untuk dapat memasok produksi baterai EV.
Sementara Pertamina yang memiliki lebih dari 7.000 SPBU akan berperan sebagai manufaktur produk hilir yang meliputi pembuatan cell battery hingga engine storage system (ESS).
“PLN sebagai BUMN di bidang listrik dan distribusi listrik akan berperan dalam penyediaan infrastruktur pengisian daya seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) hingga menjadi integrator Energy Management System (EMS),” jelasnya.
Adapun fasilitas daur ulang akan dilaksanakan PT Nasional Hijau Lestari yang direncanakan penjajakan akan baru masuk di bisnis sekitar 4-5 tahun mendatang setelah dirasa cukup populasi kendaraan sehingga memerlukan daur ulang baterai.
(OZ/Red)








