Kompas Nasional l PEMATANGSIANTAR-Saat sekolah di izinkan menggelar pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM), Pemerintah daerah masing-masing selalu ditekankan memfasilitasi kesiapan protokol kesehatan untuk keselamatan dan keamanan siswa. Mulai dari semua guru telah divaksin Covid-19, anak dipantau mulai dari rumah ke sekolah hingga kembali ke rumah lagi dalam kondisi aman.
Seharusnya, pihak sekolah pun harus mewanti-wanti untuk mewaspadai potensi kerumunan siswa. Terutama meninggalkan halaman sekolah saat jam pulang.
Amatan awak media di beberapa titik lokasi di Kota Pematangsiantar, jarak satu sekolah dengan sekolah lain sangat dekat. Sehingga, ketika jam pembelajaran berakhir, seluruh siswa bersamaan bertemu hingga menimbulkan kerumunan. Salah satunya, di persimpangan Jalan Singosari dan Jalan Bali. Terdapat SMA, SMK Teladan dan SMK Negeri 1 Pematangsiantar.
Ketika di konfirmasi hal tersebut pada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara melalui cabang dinas (Cabdis) di Siantar, sangat menyayangi kejadian tersebut. Pasalnya, sebelum pelaksanaan PTM terbatas dimulai, seluruh satuan Pendidikan dibawah naungan Dinas Pendidikan Sumatra Utara sudah melakukan simulasi. Salah satunya, mewaspadai potensi kerumunan siswa ketika meninggalkan sekolah masing-masing.
“Kami Akan hubungi kepsek serta evaluasi sekolah tersebut. Soalnya, kami sudah tegaskan untuk menugaskan di titik tadi. Mengantisipasi siswa sebelum dan setelah belajar agar dilarang berkerumun untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Corona,” tegas Kasi SMA dan PK Drs. Hamonangan Aruan ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/10/21).
Dia meminta sekolah-sekolah untuk mengatur jam pulang supaya tidak terjadi kerumunan. Dengan catatan siswa harus pulang langsung ke rumah tanpa harus mampir kesana kemari.
Aruan juga menekankan pada tiap-tiap sekolah supaya mampu menerapkan mekanisme pengaturan para pelajar ketika jam pulang. Skema pelaksanaan PTM terbatas yang sudah ditetapkan diminta benar-benar diterapkan untuk mencegah kerumunan.
“Kami akan melakukan evaluasi dan bertindak secepatnya. Upaya kami mungkin terhadap jadwal jam belajar mengajar siswa dan guru antar sekolah di lokasi yang sama, akan dibuat berbeda agar tidak terjadi kerumunan massa usai jam pembelajaran. Atau bisa jadi, sekolah dibuat selang-seling,”tukasnya.
“Sebab PTM digelar masih dalam kondisi pandemi virus Corona. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyebaran kasus virus Corona di sekolah sebagai kluster baru,” kata Aruan.
Aruan akan menegaskan lagi pada seluruh sekolah untuk aktif memperhatikan protokol kesehatan (prokes) yang baik serta pengawasan yang ketat. SOP yang telah disusun pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi, tidak boleh lengah.
Toni Tambunan.







