Home / Arsip / Arsip 2016 / Kesehatan

Kamis, 2 Juni 2016 - 13:45 WIB

Hanya dengan Beralih Gaya Hidup, Risiko Kanker Payudara Dapat Dicegah

Viewer: 546
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 54 Detik

KompasNasional.com

Risiko kanker menjadi semakin kuat jika seseorang memiliki riwayat kanker dalam keluarganya. Akan tetapi sebuah studi mengungkap, risiko ini masih bisa diturunkan dengan cara sederhana.

Adalah Dr Robert Shenk dari Breast Center, University Hospitals Seidman Cancer Center, Cleveland, Ohio yang mengatakan bahwa risiko kanker payudara pada sebagian wanita bisa saja diturunkan dengan mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat.Shenk dan timnya menemukan fakta ini setelah mengamati kurang lebih 23 ribu  wanita kulit putih berusia 30-80 tahun dan berisiko tinggi terserang kanker payudara. Peneliti juga mempertimbangkan data lain seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol serta indeks berat badan mereka.

Faktanya, sebagian dari mereka atau 23,5 persen partisipan memang berisiko terkena kanker lebih tinggi karena ‘faktor yang tidak bisa dimodifikasi’, di antaranya riwayat keluarga, penanda genetik dan faktor reproduktif.Untungnya lewat sebuah model, peneliti berhasil mengungkap bahwa meski risiko kankernya tinggi karena faktor genetik, bukan berarti ini adalah harga mati.

Peneliti menemukan, rata-rata partisipan yang berisiko kanker karena turunan tetap bisa mengurangi risikonya hingga 11 persen dengan mengadaptasi gaya hidup sehat.

”Bahkan pada wanita yang risikonya paling tinggi sekalipun, asalkan BMI-nya rendah, ia tidak merokok atau minum-minum dan tidak sedang menjalani MHT (menopause hormone therapy), maka risikonya masih bisa berkurang, setidaknya tidak setinggi risiko wanita pada umumnya,” ungkap Shenk.

Menurut Shenk, ini karena wanita yang memiliki gaya hidup sehat, tidak merokok dan tidak kegemukan lebih mampu mengendalikan kesehatannya, termasuk risiko kanker yang ada di hadapannya.

Baca Juga  Suka Main Hp di Toilet, Inilah Efeknya!

Lagipula Shenk mengatakan, setiap orang mempunyai risiko kanker pada dirinya, yaitu sebesar 10-12 persen.

“Terlepas dari itu, faktor risiko tertingginya ya menjadi seorang wanita,” imbuhnya.

Meski begitu, karena penelitian hanya melibatkan partisipan wanita berkulit putih, maka temuan ini dianggap tidak relevan untuk semua etnis, apalagi jika berkaitan dengan risiko kanker payudara yang didapat dari faktor genetik.

Ini Cara Mencegahnya

Program menyusui memiliki banyak manfaat bagi si kecil dan ibunya. Hasil studi Lancet tahun 2016 oleh UNICEF yang mereview 28 studi menemukan efek luar biasa pada kesehatan ibu dan anak.

Hal tersebut disampaikan Sue Horton, penulis Lancet Breastfeeding Series dalam Workshop Hari Gizi Nasional. Sue mengatakan, bagi ibu, menyusui memiliki beragam manfaat. Dengan tambahan menyusui tiap tahun, risiko kanker payudara berkurang 6 persen.

”Kita tahu kanker butuh banyak biaya pengobatan. Menyusui juga mengurangi risiko ibu terkena kanker indung telur. Angka menyusui saat ini bisa mencegah 20 ribu kematian karena kanker payudara tiap tahunnya dan perbaikan praktik menyusui lebih lanjut bisa mencegah tambahan 10 ribu kematian akibat kanker payudara,” terang Sue.

Ia menambahkan, dengan memperbaiki praktik menyusui di mana jumlah pemberian ASI eksklusif bisa mencapai 90 persen, maka bisa menyelamatkan sekitar 820 ribu balita tiap tahunnya.

Baca Juga  PKS PT Mas Serba Jadi Disinyalir Tanpa Izin

Susan mengungkapkan beberapa studi pun menemukan adanya peningkatan kemampuan akademis dan penghasilan di kemudian hari.

”Selain itu, anak pun terlindung dari infeksi serta penyakit lain misalnya radang telinga tengah akut pada anak di bawah usia 2 tahun, maloklusi, diabetes tipe 2, dan obesitas. Kalau ibu menyusui lebih lama, sampai usia anak dua tahun rata-rata menambah 3 poin IQ anak, itu jumlah yang banyak,” terang Sue.

Menurut dia, dengan menekan angka kesakitan bagi ibu maupun bayi, pastinya akan ada biaya kesehatan yang disimpan. Dia menegaskan bahwa menyusui adalah hak anak, bukan hak ibu dan sudah menjadi kewajiban negara untuk melindungi hal itu.

”Sayangnya, sampai saat ini masih banyak ibu yang tidak mendapat dukungan untuk menyusui. Misalnya menyusui di tempat umum sampai saat ini masih dianggap tabu, padahal seharusnya itu sah-sah saja karena ini natural dan terkait dengan kesehatan bayi,” katanya. (kn/ms/int)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Terdakwa Menangis, Usai Pembacaan Dakwaan Kasus Korupsi Rp6 Miliar Uang Kuliah USU-kompasnaisonal

Arsip

Terdakwa Menangis, Usai Pembacaan Dakwaan Kasus Korupsi Rp6 Miliar Uang Kuliah USU

Arsip

Rokok Elektriknya Meledak, Cecep Luka Bakar di Dada dan di Muka

Arsip

Tebing 12 Meter di Jatiluhur Longsor, 8 Rumah Rusak Tertimpa

Arsip

Sebut Jokowi Norak, Pemilik Akun Facebook Ini Jadi Buron Polisi

Arsip

Fakta Google Raup Rp 5,5 Tapi Nunggak Pajak Rp 2 T di Indonesia

Arsip

Potensi Buni Yani Tersangka Hingga Kambing Hitam Kasus Nista Agama
KPK Klarifikasi Harta Kekayaan Ashari Tambunan-kompasnasional

Arsip

KPK Klarifikasi Harta Kekayaan Ashari Tambunan

Arsip

Markas GMBI Dibakar, Polisi Amankan 20 Pelaku Terduga Anggota FPI