Home / Headline News

Rabu, 24 Maret 2021 - 15:21 WIB

Hacker Jual Sertifikat Palsu Vaksin Covid-19 di Dark Web Rp2,1 Juta

Viewer: 478
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 26 Detik

Kompasnasional l Kebutuhan sertifikat vaksin untuk bisa menjadi ‘paspor’ agar lolos jalan-jalan kemana saja, semakin meningkat. Banyak orang antusias di vaksin demi sertifikat ini. Namun sayang, sertifikat palsunya beredar dan cukup meresahkan.

Para hacker ikut-ikutan berbisnis sertifikat palsu vaksin Covid-19. Mereka menjualnya melalui ranah darkweb. Hal ini terungkap berkat identifikasi dan analisa dari perusahaan riset Check Point, yang juga pernah membongkar praktik penjualan vaksin virus corona di dark web.

“Sertifikat vaksin Covid-19 ini palsu namun menggunakan nama pemerintah sebagai institusi yang mengeluarkannya. Sertifikat dan paspor ini dijual hanya dengan USD150 (Rp2,1 juta) di dar web,” ujar Oded Vanunu dari Check Point, seperti dikutip The Independent.co.uk, Rabu, 24 Maret 2021.

Baca Juga  Dampak Covid-19, Banyak Relawan Asahan Bergerak membantu Lions Club Golden Estate, Sitara Foundantion, Gamki Asahan Bagikan Sembako Bagi Masyarakat Tak Mampu

Menurutnya, saat ini dark web benar-benar penuh diisi oleh hal-hal ilegal berbau Covid-19. Mulai dari vaksin, sertifikat, hasil tes negatif, sampai paspor palsu dengan label resmi dari pemerintah.

“Iklan bertambah tiga kali lipat dan menawarkan semua jenis vaksin yang tersedia. Tren baru yang mulai kami lihat adalah peretas menawarkan vaksinasi palsu dan sertifikat tes saat mereka mencoba memanfaatkan minat publik untuk mendapatkan vaksin lebih awal, atau menghindari vaksin tetapi memiliki bukti vaksinasi,” kata Vanunu.

Sebelumnya, peneliti Kaspersky memeriksa 15 pasar berbeda di Darknet dan menemukan iklan untuk tiga vaksin COVID utama, yaitu: Pfizer/BioNTech, AstraZeneca, dan Moderna. Terdapat juga penjual yang mengiklankan vaksin “COVID19” yang tidak terverifikasi.

Baca Juga  Relawan DJM, Masyarakat Papua Harus Menolak Partai Yang Bersebrangan dengan Progam Jokowi

Hasil temuan Kaspersky menemukan mayoritas penjual berasal dari Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Harga per dosis berkisar antara USD250 hingga USD1.200 (Rp3,5 juta sampai Rp17,2 juta), dengan biaya rata-rata sekitar USD500 (Rp7,1 juta). Komunikasi dilakukan melalui aplikasi perpesanan terenkripsi seperti Wickr dan Telegram, sementara pembayaran diminta dalam bentuk mata uang kripto, terutama bitcoin. (UZ/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Headline News

Hasil Sidang Isbat: Idul Fitri 1441 H Jatuh Pada Minggu 24 Mei 2020

Berita

4 Fakta Baru Kecelakaan Lion JT 610

Headline News

Polres Tapteng Benarkan Tragedi Rampa Mengakibatkan Hilangnya Nyawa

Berita

Kejanggalan di Titik Kritis 13 Menit Sebelum Lion Air JT 610 Jatuh

Berita

Gempa Maluku Dimutakhirkan Jadi M 7,5-Peringatan Dini Tsunami Dicabut
Foto gunung kerinci saat kembali terjadi erupsi

Berita

Gunung Kerinci Lontarkan Abu Setinggi 750 Meter ke Arah Sumbar

Berita

11 Nelayan di Rajabasa, Lampung Selatan, Masih Hilang Akibat Tsunami

Berita

Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 dianggap kurang tanggap menangani Covid 19