Home / Berita

Jumat, 10 Mei 2019 - 13:38 WIB

dr Ani Hasibuan dan Fahri Hamzah agar jangan menggiring kematian “Pahlawan Pemilu”menjadi ‘gorengan isu’ nasional

Pengurus DPP Ormas Indonesia Bersatu, Leorisma Sihotang MPd (kanan), dr Ani Hasibuan (kiri tengah), Fahri Hamzah (kiri bawah)

Pengurus DPP Ormas Indonesia Bersatu, Leorisma Sihotang MPd (kanan), dr Ani Hasibuan (kiri tengah), Fahri Hamzah (kiri bawah)

Viewer: 728
0 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 36 Detik

Jakarta – Pengurus DPP Ormas Indonesia Bersatu, Leorisma Sihotang MPd meminta Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dan dr Ani Hasibuan untuk berhati-hati dalam membuat stetmen ke publik dan jangan sembarangan menebar isu yang belum diyakini kebenarannya. Karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kegaduhan dan praduga negatif terhadap pihak tertentu.

“Fahri Hamzah dan dr Ani Hasibuan kami minta jangan sembarangan untuk menebarkan isu ke publik, karena dikhawatirkan bakal dapat menimbulkan kegaduhan nasional dan praduga negatif terhadap penyelenggara Pemilu tahun ini (2019),” kata Leorisma Sihotang, Jumat (10/5/2019) di Jakarta.

Menurut Risma, pernyataan dokter syaraf Ani Hasibuan yang viral setelah menyebutkan soal penyebab kematian petugas KPPS bukan karena kelelahan, jangan dianggap enteng. Pasalnya, tak hanya memberikan analisa soal penyebab kematian KPPS, Ani Hasibuan juga bertemu dengan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di Gedung DPR RI di Senayan Jakarta.

Ujaran tersebut, menurut Risma sangat berbahaya dan diduga mengandung kebencian terhadap lembaga tertentu karena belum tentu benar tapi sudah dibangun kecurigaan dan diviralkan.

“Ada apa dr Ani Hasibuan membangun opini seolah-olah kematian petugas KPPS oleh karena sesuatu hal? Mestinya analisa itu dia buktikan dulu kebenarannya, setelah itu mengajak keluarga korban yang meninggal untuk membuat laporan ke institusi yang berwenang, jikalau ditemukan praduga lain dibalik kematian mereka. Ini kok malah ke DPR dan ekspos sana-sini? Skenario penggiringan opini seperti ini pernah dilakukan Ratna Sarumpaet, karena kritis terhadap pemerintah lalu diciptakan skenario seolah-olah dianiaya oleh OTK hingga wajahnya babak belur. Untung saja Polisi dapat membongkar kebohongan yang diciptakan Ratna Sarumpaet yang dikenal publik sebagai pendukung fanatik salah satu Capres itu,” kata alumni Pascasarjana Pendidikan Universitas Negeri Medan (Unimed) ini.

Baca Juga  Kapolres Samosir Gelar Tatap Muka, Rangka Antisipasi Wabah PMK, Pencurian Ternak dan Laka Lantas Akibat Hewan Ternak Di Samosir

Lebih lanjut Risma menuturkan, Ormas Indonesia Bersatu setuju jikalau penyebab kematian ratusan petugas KPPS ini diselidiki secara medis agar menjadi pelajaran berharga ke depan. Jikalau dr Ani Hasibuan berniat untuk membantu, kata Risma lagi, mestinya langkah cerdas yang dapat dilakukannya adalah membuktikan dulu diagnosanya, setelah ditemukan adanya tindakan kejahatan, maka dapat membawa keluarga korban ke kantor Polisi untuk membuat pengaduan.

Setelah pengaduan dibuat, namun tidak ada follow up-nya, barulah dr Ani Hasibuan ke Komnas HAM atau LSM seperti Kontras dan lembaga lainnya untuk meminta dukungan.

“Lha, kita lihat ini hanya modus untuk menggiring opini ke publik, seolah-olah terjadi kejahatan luar biasa di Negara ini dan yang melakukan kejahatan tersebut adalah Penyelenggara Pemilu. Pertanyaannya, motif apa KPU melakukan kejahatan hingga menghilangkan nyawa orang lain? Apa untungnya bagi KPU melakukan perbuatan jahat seperti praduga dari dr Ani Hasibuan? Lagi pula, petugas KPPS di dalam satu TPS lebih dari satu orang dan saksi-saksi dari masing-masing Capres serta saksi dari Parpol sangatlah banyak, belum lagi pemantau Independen, anggota Bawaslu dan personil Kepolisian yang mengawasi gerak-gerik para petugas KPPS saat bekerja. Apakah mungkin?” tandasnya.

Oleh karena itu, Risma meminta dr Ani Hasibuan dan Fahri Hamzah agar jangan menggiring kematian “Pahlawan Pemilu” itu menjadi ‘gorengan isu’ nasional.

“Mestinya kita kasihan dan turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada para petugas KPPS yang telah berjasa tersebut, karena mereka adalah Pahlawan Pemilu yang berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara,” tandasnya.

Baca Juga  Kacabdis P.Sidimpuan Sosialisasikan PPDB Tahun 2021/2022

Sebelumnya diberitakan, dr Ani Hasibuan mengaku curiga kematian petugas KPPS bukan karena kelelahan.

“Itu temuan yang harus kita cari, apa sih penyebab kematiannya? Nggak bisa dengan kata-kata kelelahan. Karena menurut saya, secara fisiologis tubuh manusia, kelelahan itu jarang menimbulkan kematian, kecuali orangnya punya penyakit duluan,” ungkap dr Ani Hasibuan.

“Saya ingin itu diperiksa, bukan dengan gampangnya ketua KPU bilang meninggal karena kelelahan. Masa iya 554 orang kelelahan semua?” sambungnya.

Ani ingin penyebab meninggalnya KPPS ini diperiksa oleh sebab itu dia datang ke DPR dan bertemu dengan Fahri Hamzah.

“Saya minta di DPR bagaimana caranya ini didesak untuk diperiksa. Tidak ada unsur-unsur lain,” pungkas Ani Hasibuan, Senin (6/5/2019).

“Mereka melaporkan beberapa temuan, saya tertarik karena dokter-dokter dari berbagai keahlian yang hadir. Saya kira sebaiknya pemerintah terbuka dengan apa yang terjadi, terutama KPU. Dibuka saja masalahnya apa dan investigasi terhadap korban. Itu harus dilakukan satu per satu, jangan membuat generalisasi lalu ada uang tutup mulut,” ujar Fahri di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/5/2019) usai menerima laporan investigasi dari para dokter itu.

Selain itu, laporan para dokter juga menyebutkan adanya kemungkinan petugas KPPS meninggal karena diracun.

“Beberapa investigasi yang mereka lakukan itu cukup mengagetkan, karena modus dari meninggalnya juga sebagiannya ada kemungkinan adanya racun. Kira-kira begitu,” kata Fahri Hamzah menimpali (aw/Timred).

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

The newest Usa No clash of queens game deposit Casinos 2020

Berita

Polres Melawi Gelar Bakkes Serentak di Indonesia Sambut HUT Bhayangkara ke-76

Berita

Satgas Pamtas Rl-Malaysia Yonif 645/ Gty Bantu Proses Pemakaman Warga 

Arsip

Asyik Selfie, 7 Wisatawan Tergulung Ombak Besar

Berita

Grand Final P3S, Johannes Damanik dan Nathamia Purba Terpilih Sebagai Putra dan Putri Duta Pariwisata Simalungun 2021

Berita

Bupati Kapuas Hulu menghadiri Peresmian Gedung Mapolres Yang Baru

Arsip

Sandera Asing Dipenggal, Bukti Filipina Tak Bisa Penuhi Janji

Berita

Permintaan BBM Lebaran Diprediksi Naik 10 Persen