
Balada Orang-Orang Kalah
Sudah seratus tahun lebih sejak Nuku pergi
tidak ada lagi laki-laki perkasa yang angkat senjata,
Semua kita menjadi jelata menghamba pada jakarta. Tanah air penuh air mata, dimana-mana
Tanah air telah diminta. Waktu soekarno datang deng hatta katong kasih jua
Lalu para sultan mati merana
Seribu ton kopra katong kasih jua
Lalu sekarang tak punya harga
Kini tanah katong seng punya
sebab habis dijual penguasa
Anak cucu menunggu binasa, air mata dimana-mana
Dimana Kini Tuan Bertahta
“Kepada Yang Mulia Sultan Tidore”
Coba bentangkan peta indonesia lalu bentangkan pula peta maluku, Maka dari tanjung sopi sampai kisar, itu sepertiga wilayah indonesia.
Tarik sedikit garis sejarah lalu hamparkan di atas kekinian indonesia, Maka dari donggala, bima, alor sampai papua adalah tanah air kita. Bahkan timor leste yang kini merdeka pernah juga ada sangaji disana.
Siapa islamkan arung palakka dengan gelar sultan saaduddin ? Permaisuri dari kie raha jua yang melahirkan raja-raja mereka, ake santosa saksi cerita.
Ketika Indonesia muda butuh wilayah dengan hati rela kita kasih jua, Meski ibu kota lalu menjadi desa. Meski sultan ternate mati merana.
Ketika republik muda tiada berpunya, seribu ton kopra kita kirim jua lalu kini tiada berharga.
Morotai dan kao juga aru kita kasih jua biar bisa rebut papua dari tangan belanda. Lalu kini tiada bernama.
Kita kini halaman belakang nusantara padahal dahulu para raja eropa berebut sengketa membelah dunia menjadi dua. Tordesilas tipu daya penuh muslihat.
Abad berlalu, waktu melalu, lalu segala binasa dalam sengketa di tanah air yang tak lagi kita punya, Cuma nama dan bendera-bendera, dimana kini para sultan bertahta?
Apa makna kadera di senayan sana bila tanah air dalam petaka, bila rakyat hidup merana. Cinta kita tiada sama di dada garuda, sebab ia masih saja membuang muka, kepada siapa tuan menuntut bela kalau tidak kepada baginda
Cukup sudah duka lara, selesai sudah derita yang lama, kepada tuan kami datang menuntut bela.
Batavia 21 November 2018







