Home / Headline News

Rabu, 24 Maret 2021 - 15:21 WIB

Hacker Jual Sertifikat Palsu Vaksin Covid-19 di Dark Web Rp2,1 Juta

Viewer: 457
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 26 Detik

Kompasnasional l Kebutuhan sertifikat vaksin untuk bisa menjadi ‘paspor’ agar lolos jalan-jalan kemana saja, semakin meningkat. Banyak orang antusias di vaksin demi sertifikat ini. Namun sayang, sertifikat palsunya beredar dan cukup meresahkan.

Para hacker ikut-ikutan berbisnis sertifikat palsu vaksin Covid-19. Mereka menjualnya melalui ranah darkweb. Hal ini terungkap berkat identifikasi dan analisa dari perusahaan riset Check Point, yang juga pernah membongkar praktik penjualan vaksin virus corona di dark web.

“Sertifikat vaksin Covid-19 ini palsu namun menggunakan nama pemerintah sebagai institusi yang mengeluarkannya. Sertifikat dan paspor ini dijual hanya dengan USD150 (Rp2,1 juta) di dar web,” ujar Oded Vanunu dari Check Point, seperti dikutip The Independent.co.uk, Rabu, 24 Maret 2021.

Baca Juga  Anggota DPD RI Edwin Pratama Kunker Sekaligus Serahkan Bantuan BSPS. Kades Ranah Singkuang Ucapkan Terimakasih

Menurutnya, saat ini dark web benar-benar penuh diisi oleh hal-hal ilegal berbau Covid-19. Mulai dari vaksin, sertifikat, hasil tes negatif, sampai paspor palsu dengan label resmi dari pemerintah.

“Iklan bertambah tiga kali lipat dan menawarkan semua jenis vaksin yang tersedia. Tren baru yang mulai kami lihat adalah peretas menawarkan vaksinasi palsu dan sertifikat tes saat mereka mencoba memanfaatkan minat publik untuk mendapatkan vaksin lebih awal, atau menghindari vaksin tetapi memiliki bukti vaksinasi,” kata Vanunu.

Sebelumnya, peneliti Kaspersky memeriksa 15 pasar berbeda di Darknet dan menemukan iklan untuk tiga vaksin COVID utama, yaitu: Pfizer/BioNTech, AstraZeneca, dan Moderna. Terdapat juga penjual yang mengiklankan vaksin “COVID19” yang tidak terverifikasi.

Baca Juga  Bhabinkamtibmas, Babinsa, Manggala Agni dan MPA Desa Rimbo Panjang Gelar Patroli Karhutla Terpadu

Hasil temuan Kaspersky menemukan mayoritas penjual berasal dari Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Harga per dosis berkisar antara USD250 hingga USD1.200 (Rp3,5 juta sampai Rp17,2 juta), dengan biaya rata-rata sekitar USD500 (Rp7,1 juta). Komunikasi dilakukan melalui aplikasi perpesanan terenkripsi seperti Wickr dan Telegram, sementara pembayaran diminta dalam bentuk mata uang kripto, terutama bitcoin. (UZ/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Pemilihan Putra Putri Remaja Nusantara 2022, Diva Ananta Sofian Utusan Riau Keluar Sebagai Runner Up
Sanksi Tegas! Berani Jual Gula di Atas Rp 12.500/Kg Siap-siap Disambangi Polisi

Berita

Sanksi Tegas! Berani Jual Gula di Atas Rp 12.500/Kg Siap-siap Disambangi Polisi

Berita

Perpustakaan SMAN 1 Matauli Pandan Terima Sertifikat Akteditasi “A” Dari Perpustakaan Nasional RI
Ket;Foto// Dari kiri ke Kanan, Sekjen DPD SBSI 92 Sumut Darmawan yusuf, SH, SE, M.Pd, MH, CTLA, Kadisnaker sumut Harianto Butar Butar, Raijon Kasi Syaker Disnakersu, Willy Agus Utomo F SPMI Sumut, Dan Paling kanan baju putih Kabid PHI Maruli Silitongga

Headline News

May Day SBSI 92 Darmawan Yusuf Mendukung Gubernur Sumut Untuk Menekan Penyebaran Covid 19 Tak Turun Demo ke Jalan

Headline News

Jadi Kapolri, ini pekerjaan rumah Listyo Sigit

Berita

Dihadapan Ratusan Mahasiswa UI, Lenis Kogoya Kuliah Makan Tempe

Berita

Kronologi Penembakan 31 Pekerja Trans Papua oleh KKB

Headline News

Sosok Moeldoko, Dulu Dikenal Dekat SBY, Kini Dituduh Hendak Ambil Alih Demokrat