Viewer: 963
0 0

Home / Berita

Senin, 23 November 2020 - 12:17 WIB

Eksklusif, Wawancara Irjen Napoleon Bonaparte: (Saya Ditahan) untuk Menutupi Suatu Perbuatan Pidana (Lain)

Viewer: 964
0 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 12 Detik

tersangka dan barang bukti untuk tersangka Irjen Pol Napoleon Bonaparte, Brigjen Pol Prasetijo Utomo dan pengusaha Tommy Sumardi ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk segera disidangkan.

Saya pun berupaya menembus akses menemui mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri itu di ruang tahanan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri untuk menagih janjinya.

Tentu tidak mudah. Syukurlah, saya berhasil menemuinya. Ia pernah sesumbar ingin mengungkap keganjilan di balik kasusnya.

Saya menghormati instruksi Kapolri tahun 2016 yang tidak mengizinkan wartawan mewawancarai tahanan di ruang tahanan. Instruksi tersebut dikeluarkan Kapolri saat itu Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Instruksi ini dikuatkan dengan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Namun, dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik ini saya berpegang pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers yang memberi perlindungan bagi wartawan. Undang-undang tersebut menyatakan tentang kemerdekaan pers untuk mencari, memperoleh, menyebarluaskan gagasan dan informasi dengan tetap menghormati norma agama, susila, dan asas praduga tak bersalah.

Saya menemuinya di dua hari yang berbeda. Hari pertama saya melihat ruang tahanan. Hari selanjutnya, saya melakukan wawancara panjang di ruang berbeda tapi masih dalam kompleks yang sama.

Baju seragam kebesaran PDL (Pakaian Dinas Lapangan) dengan bintang 2 di bagian kerah baju tergantung di ruang tahanan itu. Saya melihat pula dua buah sepatu lars yang tersimpan rapi di dalam rak di ruang tahanan yang berukuran sekitar 3 kali 5 meter itu dengan ventilasi ruangan lorong yang berada di lantai bawah tanah.

Baca Juga  Massa Demo Apdesi Bakar-bakar Depan DPR, Api Disemprot Water Cannon

“Tak pernah terpikir, seorang Jenderal dengan dua bintang harus ditahan di tempat mana ia justru menjebloskan tahanan lain atas berbagai kasus?” tanya saya.

“Iya,” Irjen Napoleon menjawab lirih dengan sedikit senyum.Sejak saya masuk Akademi (Kepolisian),” ia melanjutkan, “selalu ada istilah polisi berdiri di atas dua kaki. Satu di atas kuburan, satu di atas Penjara.”

Saya membuka wawancara panjang eksklusif ini dengan pertanyaan:
“Jenderal Napoleon menerima uang Rp 6 miliar (dari Tommy Sumardi)?”

“Itu tuduhan rekayasa yang dibuat oleh Tommy Sumardi. Tugas dialah yang harus membuktikan apa itu benar. Mari kita lihat di pengadilan, apa buktinya. Kita nanti bisa lihat keganjilan – keganjilan yang dia buat, termasuk fakta – fakta yang akan terungkap.
Apa keganjilan itu?

Siapa sih orang yang mau mengorbankan dirinya sendiri untuk masuk penjara. Hanya untuk menjatuhkan seorang Napoleon. Padahal dia tidak punya hubungan, (tidak) kenal pribadi dengan saya. Dari situ saja itu sudah tercium. Ia bukan orang yang dirugikan. Pasti kan ada dalangnya. Ada kepentingan yang lebih besar daripada saya.

Apa keganjilan itu?
Anda merasa dikorbankan?

Hmmm (sempat berpikir beberapa detik), .. Iya.

Apa untungnya mengorbankan Anda. Saya harus tanyakan untuk kepentingan seperti yang sekarang banyak diperbincangkan, bursa Kapolri misalnya, ada jauh dari situ. Anda bukan orang yang diperhitungkan. Kapolda saja Anda tidak pernah menempati kursi untuk daerah tipe A, misalnya.

Baca Juga  Bantu Program Pendidikan, Satgas Pamtas Yonif Mekanis Menjadi Gadik Di Perbatasan.

Kalau Anda dikorbankan apa untungnya, logikanya enggak masuk Jenderal?
Saya tidak pernah bilang ada yang diuntungkan. Itu publik mungkin lebih tahu. Pertanyaan bukan yang diuntungkan atau tidak diuntungkan. Tapi ada keganjilan. Tapi semua nanti akan terungkap di pengadilan.

Apakah ini semua terkait bursa calon Kapolri yang baru, menurut Anda?

Saya belum bisa mengatakan hal itu.

Adakah peluang ke arah sana?

Mungkin saja.

Anda seorang Polisi. Anda lama di bidang reserse. Anda tentu punya naluri yang bisa mengatakan ada dugaan, patut diduga, ada ke arah sana?

Mungkin bisa lebih dari itu!
Apa?

Untuk menutupi suatu perbuatan pidana.

Anda katakan dikorbankan dan Anda katakan untuk menutupi pidana yang lain? Anda mau mengatakan ini dilakukan oleh pejabat Polri, jenderal-jenderal lain?

Mungkin saja.

Nanti pengadilan yang akan menjawabnya. Saya ditempatkan di sini, bersama dengan penjahat narkoba, koruptor, bahkan bersama dengan orang yang saya tangkap bulan Juni lalu di Serbia, Maria Pauline Lumowa. Jeruji di sini tidak akan memakan badan dan mental saya.

Saya cukupkan cuplikan wawancara saya sampai di sini. Saksikan tayangan lengkapnya di Kompas TV, Senin, 23 November 2020, pukul 20.00 wib dalam program AIMAN.

Saya Aiman Witjaksono…
Salam! (K/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Wali Kota Pematangsiantar Ikuti Upacara Ziarah Nasional Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2021

Berita

Edi Kamtono Siap Kawal Proses Pembangunan Duplikasi Jembatan Kapuas I

Berita

Pemkab Mempawah Tinjau Harga dan Ketersediaan Bahan Pokok Imbas Kenaikan BBM

Berita

Pengukuhan Empat Pejabat Sementara Empat Bupati

Berita

Bupati Syahrul Resmikan Kantor PCNU Kab Tapsel

Berita

Kondisi Wali Kota Pontianak Saat Ini Dinyatakan Negatif Covid-19
Penyerahan dari PT Agung Toyota

Berita

SANTUNI ANAK YATIM DI HARI JADI KE 6 TH PT.BARUMUN JAYA MANDIRI TOUR & TRAVEL PEKANBARU

Berita

Bhabinkamtibmas Polsek Boyan Tanjung Bantu Pengendara Sepeda Motor Melewati Jalan yang Terendam Banjir