Viewer: 1088
1 0

Home / Berita / Daerah

Rabu, 15 Juli 2020 - 23:56 WIB

Prihatin, Keluarga Ini Bertahun Hidup di Gubuk Tanpa Listrik di Kota Pandan Tapanuli Tengah

Prihatin, Keluarga Ini Bertahun Hidup di Gubuk Tanpa Listrik di Kota Pandan Tapanuli Tengah

Prihatin, Keluarga Ini Bertahun Hidup di Gubuk Tanpa Listrik di Kota Pandan Tapanuli Tengah

Viewer: 1089
1 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 3 Detik

TAPANULI TENGAH, Kompasnasional | Kesulitan ekonomi tidak hanya dirasakan masyarakat di pedalaman yang jauh dari kekuasaan, namun juga dirasaka dekat perkotaan. Seperti halnya keluarga Sukarman (52) Warga Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Uatara.

Pak Sukarman tinggal di gubuk yang sangat memprihatinkan bersam istrinya Unaizah Damanik (41) bersama empat orang anaknya.

Kondisi keluarga ini sangat memprihatinkan, mereka tinggal di gubuk reyot berdindingkan terbuat dari anyaman bambu dan penuh lubang sangat tidak layak untuk dihuni.

Bahkan mirisnya lagi keluarga ini menumpang ditanah orang di tengah kebun karet (Rambung)  dan sawah tanpa ada tetangga. Gubuk yang terbuat dari kayu berukuran 2×4 meter persegi itu tampak sudah ringkih. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan penuh lubang itu juga tampak doyong ke belakang akibat tiang penyangga yang sudah lapuk.

Jika malam datang dan gelap mulai menyergap, hanya cahaya kecil dari sumbu lampu cempor yang menjadi sumber penerangan satu-satunya, tanpa penerangan listrik.

Gubuk tempatnya mereka  bernaung dari panas terik dan hujan hanya terdapat tiga ruangan di dalamnya beralaskan tanah, satu kecil untuk tempat anak gadisnya yang sudah berusia 18 tahun dan satu ruangan berukuran sedang tempat tidur ketiga anak bersama di satu ruangan, dan ruangan lagi dijadikan ruang dapur.

Baca Juga  Gencar Laksanakan Patroli, Satgas Pamtas Yonif 642/Kps Amankan Sabu 42,928 Kilogram*

Didalam ruangan juga hanya terdapat kasur lepek tanpa perabotan dan barang berharga lainnya, sedangkan untuk memasak hanya menggunakan tungku yang bahan bakarnya dari kayu.

Tak jarang rumah mereka juga sering kebanjiran karena kondisi dekat persawahan terlebih di musim hujan, selain kebanjiran, air hujan juga masuk kedalam rumah karena atap bocor dan dinding yang masih terbuat dari anyaman bambu.

Cerukan di samping rumah menjadi satu-satunya sumber air untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus. Tapi, kalau sudah hujan airnya jadi keruh, namun karena tidak ada lagi, mau tak mau harus dipergunakan.

“Kalau hujan kami sangat susah tidur pak, atap rumah kami bocor, apa lagi kalau banjir, air masuk kedalam rumah kami,” ujar ibu Unaizah Manik sambil menangis, Saptu (11/7/2020).

Unaizah sendiri kerja serabutan, sedangkan suaminya ikut orang melaut, terkadang suaminya pulang tidak membawa hasil apapun. Bahkan anaknya nomor dua yang baru saja tammat sekolah terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena biaya, mengingat anak gadisnya yang ingin kuliah, namun bingung karena ketiadaan ekonomi.

“Anak saya ini sudah mendaftar Kampus IAIN Padang Sidimpuan pak, Jurusan Perbankan Syariah Mandiri, sudah lulus, tapi harus ada uang Rp 2.225.000 yang harus dibayarkan tanggal 14 bulan Juli 2020 ini pak. Kami tidak tau harus mengambil uang dari mana pak supaya anak kami ini bisa kulia,” uajar Unaizah menangis tersedu-sedu.

Baca Juga  Polsek Semitau mensosialisasikan stop Pertambangan emas tanpa izin( PETI)

Kalau gak ada uang itu tanggal 14 ini anak saya tidak masuk lagi pak, sementara dia ini sudah lulus, kami sangat berharap bantuan yang mau membantu anak kami ini, kami sangat memohon,” sambung Unaizah.

Prihatin, Keluarga Ini Bertahun Hidup di Gubuk Tanpa Listrik di Kota Pandan Tapanuli Tengah

Namun Unaizah tak henti-hentinya berdoa agar senantiasa diberikan kesehatan dan rezeki, kendati, seuntai harapan selalu ada di dalam hatinya bahwa suatu saat nanti bisa pindah dan tinggal di rumah yang lebih layak, dan dekat dengan keluarga dan tetangga.

Sementara itu, Dina Hayani sambil menangis berharap bantuan untuk biaya kuliahnya. Ia sangat ingin menjadi orang sukses untuk membantu orang tua dan adik-adiknya kelak.

“Saya sangat ingin sekali menjadi manusia yang berguna pak, saya sangat ingin berkuliah, sementara orang tua saya tidak mampu, saya hanya berharap bantuan orang-orang yang mau peduli dengan kami, maupun pemerintah,” kata Dina Hayani menangis sedih.

Dina Hayani sangat berharap adanya uluran tangan yang dapat membantu biaya perkuliahannya yang hanya tinggal dua hari lagi. Karena jika dalam dua hari ini biaya masih belum ada, maka dirinya dinyatakan gugur dan tidak dapat berkuliah di kampus IAIN harapannya.

Penulis : Jerry

Happy
Happy
%
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Tiba di Lampung, Jokowi Resmikan Terminal Bandara Radin Inten II

Berita

Prajurit Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Bantu Proses Pemakaman untuk Meringankan Beban Warga 

Berita

TBPP BUPATI SAMOSIR DIDUGA MELANGGAR HUKUM

Berita

BUPATI HUMBAHAS: PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019 SEBAGAI BENCANA NON-ALAM

Arsip

Ini Kronologi Anggota Polisi Ajak Kencan Siswi SMK Agar Tak Ditilang

Berita

Kejari TBA Terapkan Jalur Restorative Justice Selesaikan Lakalantas

Daerah

Kota Sukabumi, Zona Hijau Pertama di Jabar

Berita

KPK Rakor Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2021