kompasnasional.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan melakukan peletakan batu pertama Proyek Pengembangan Gas Lapangan Unitisasi Jambaran–Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada Senin (25/9). Peletakan batu pertama ini menandai dimulainya pekerjaan konstruksi fasilitas pemrosean gas (gas processing facilities/GPF) Proyek JTB yang kapasitas produksinya mencapai 330 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi mengatakan proyek JTB ini dapat memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pemasukan negara dari sektor minyak dan gas. “Diproyeksikan penerimaan negara dari proyek ini sampai kontrak selesai tahun 2035 mencapai USD 3,61 miliar atau lebih dari Rp 48 triliun,” ujar Amien.
Lebih lanjut, Amien mengatakan seluruh produksi gas ini juga akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Alokasi sebesar 100 MMSCFD diperuntukkan ke Pertamina, yang kemudian dialirkan ke PLN untuk kebutuhan listrik di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara sebesar 72 MMSCFD akan memasok kebutuhan industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Adapun, total biaya investasi dan operasi proyek ini mencapai USD 1,547 miliar atau sekitar Rp 20,5 triliun. Jumlah ini belum termasuk pembangunan pipa Gresik-Semarang sepanjang 267 kilometer dengan investasi USD 515 juta atau sekitar Rp 7 triliun.
“Dengan dukungan semua pihak, diharapkan proyek ini dapat mulai berproduksi pada awal 2021,” katanya.
Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu (PEPC), Adriansyah, mengatakan proyek hulu dan hilir ini menjadi salah satu komitmen Pertamina melalui anak perusahaannya, yakni PEPC dan Pertamina Gas untuk menjadi penggerak ekonomi dengan monetisasi cadangan gas di Blok Cepu.
“Peresmian ini menjadi semangat sekaligus tantangan. Kami berkomitmen mengeksekusi proyek ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka mendukung kebutuhan energi nasional,” jelas Adriansyah.
Adriansyah juga menjelaskan, proyek JTB menjadi proyek gas terbesar di Jawa Timur. Untuk itulah, dukungan dari pemerintah dan segenap pemangku kepentingan merupakan aspek penting untuk kelancaran proyek ini.
Diketahui, lapangan Gas JTB adalah gabungan dari bagian Wilayah Kerja (WK) Cepu dan WK Pertamina EP. Cadangan lapangan ini diperkirakan sebesar 1,9 triliun kaki kubik (TCF). Pertamina EP Cepu akan menjadi operator tunggal setelah ExxonMobil melepaskan sahamnya di JTB, sehingga Pertamina menguasai 90 persen participating interest dan 10 persen dimiliki pemerintah daerah (mdk|dwk)








