Home / Arsip / Arsip 2016 / Ekonomi / Nasional / Reviews

Kamis, 10 November 2016 - 13:16 WIB

Perbankan Masih Sulit Tingkatkan Kualitas Kredit

Viewer: 546
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 41 Detik

Pemerintah harus bekerja keras merealisasi anggaran belanja bila menargetkan pertumbuhan ekonomi bertahan di level lima persen pada akhir tahun. Alasannya, pemotongan anggaran belanja pemerintah Rp 137 triliun terbukti melambatkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,02 persen pada kuartal III lalu.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menyatakan, pemangkasan anggaran tidak hanya menghambat ekonomi nasional, tetapi juga pertumbuhan ekonomi di daerah.

’’Biasanya pemerintah bisa menghabiskan Rp 100 triliun sebulan. Mungkin bisa lebih sedikit, Rp 150–300 triliun. Tapi kalau sampai Rp 700 triliun sih nggak bisa,’’ katanya kemarin (9/11).

Lana menilai, Indonesia cukup beruntung dengan capaian pertumbuhan ekonomi 5,02 persen pada kuartal III 2016.
Pada akhir tahun, ekonom Samuel Aset Manajemen itu menyarankan tidak mengandalkan konsumsi rumah tangga.

Baca Juga  Gelar Silaturahmi, Pemkab Tapsel Dukung Program Polda Sumut Berantas Hoax

Sebab, efek momen liburan akhir tahun tidak sebesar liburan Lebaran pada pertengahan tahun lalu. Tingkat konsumsi rumah tangga akan naik meski tidak terlalu besar. Di sisi lain, konsumsi lembaga nonprofit dari momentum pilkada juga tidak cukup menjadi booster.

Banyak calon yang akan memanfaatkan media sosial karena dianggap lebih murah. Karena itu, Lana mengimbau pemerintah mengonsumsi seefektif mungkin untuk mendorong peran swasta. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini bahwa perekonomian Indonesia bisa menyentuh 5,1 persen pada akhir tahun.

Sebab, kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia masih bagus. Terutama didorong program amnesti pajak yang terus berlangsung hingga Maret 2017.

’’Kami memperkirakan dana repatriasi bisa mencapai Rp 100 triliun hingga Desember 2016,’’ katanya.

Baca Juga  Mata Uang Tidak Laku, Iran Kesulitan Impor Bahan Pangan

Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan menilai Indonesia masih harus mewaspadai permintaan. Sebab, ekonomi Indonesia lebih didorong penurunan impor daripada peningkatan ekspor.

Di sisi lain, BI tidak bisa hanya mengandalkan intervensi suku bunga. Sekalipun 7-days reverse repo rate telah diturunkan menjadi 4,75 persen, perbankan masih sulit meningkatkan kualitas kredit dengan angka kredit macet di atas tiga persen. Hal itu membuat penyaluran kredit kurang maksimal, ditambah sisi permintaan kredit yang tergolong rendah.

’’Saya sih melihat ini belum benar-benar fundamental yang baik. Konsumsi rumah tangga dan investasi kita masih rendah. Meski kalau dibandingkan dengan negara-negara emerging market yang lain, kita masih mendingan,’’ tuturnya (pjkst|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Risma di Pilgub DKI, Antara Janji ke Surabaya dan Loyalitas ke PDIP

Arsip

NCW Minta Inspektorat dan Jaksa Periksa Pengelolaan Dana Desa

Berita

Jelang Liga 2 Bergulir, Persiraja Mendapat Dua Suntikan Segar
Rekontruksi Pembunuhan Pengusaha Katering Tak Berjalan Lancar-kompasnasional

Arsip

Rekontruksi Pembunuhan Pengusaha Katering Tak Berjalan Lancar

Berita

KPK Periksa 5 Politikus untuk Dalami Kasus E-KTP

Arsip

Bola panas polemik gedung baru DPR dilempar ke pemerintah

Berita

Pasca Penggeledahan Rumah Dinas Zola,Pemerintahan Berjalan Normal

Arsip

Menteri Rini Target Divestasi Saham Freeport Kelar di 2018