Home / Arsip / Arsip 2016 / Kriminal

Jumat, 17 Juni 2016 - 14:00 WIB

Tak Pernah Bisa Tidur Nyenyak Setelah Bunuh Marhaposan

Viewer: 790
0 0
Terakhir Dibaca:4 Menit, 53 Detik

Kompasnasional.com

SIMALUNGUN –  “Mataku susah terpejam. Kalau pun tertidur, sebentar sudah bangun. Aku tak pernah tidur nyenyak. Rasa takut selalu ada. Aku selalu was-was. Nggak pernah nyaman di mana-mana,” demikian ungkapan JDG saat diwawancarai tentang perasaannya setelah membunuh Marhaposan Siahaan.

Di ruang Jatanras Sat Reskrim Polres Simalungun, Kamis (16/6) pukul 14.30 WIB, JDG mengaku tak pernah tenang pasca pembunuhan yang dilakukannya.

“Aku memang sengaja mau membunuh dia. Tapi aku ada rasa takut juga saat pembunuhan itu,” katanya.

Dia menuturkan, setelah Marhaposan Siahaan dibunuh dan dikuburkan pada malam tanggal 31 Mei lalu, dia mengaku langsung pulang ke rumah dan masuk ke kamarnya. Namun, sampai pukul 02.00WIB, matanya tak kunjung terpejam. Dia selalu dihantui rasa takut.

“Saat itu aku tidur jam 3 pagi. Tapi kemudian bangun jam 5 pagi. Mataku susah terpejam,” ujar remaja pemilik paras tampan itu.

Kembali diceritakannya, tepat pada 1 Juni, dirinya tetap masuk sekolah di salah satu SMK yang ada di Pematang Raya. Dia tetap menjalani aktifitas sehari-harinya. Meski begitu, ia mengaku tak pernah bisa merasa nyaman.

“Aku masuk sekolah seperti biasa. Aku selalu was-was. Nggak pernah merasa nyaman,” katanya.

Bahkan beberapa hari setelah pembunuhan, sepedamotor Marhaposan yang sudah diambil, tidak pernah dipakainya. Dia mengendarai sepedamotor itu tepat di malam Minggu (4/6) lalu. Tujuannya saat itu adalah berkeliling Kota Pematang Raya dan kemudian pergi ke partonggoan (doa lingkungan pemuda) di Nagori Dalig Raya.

“Hanya malam itu kupakai. Tanggal 6 aku pulang ke Lubuk Pakam karena libur. Tanggal 8 aku pulang lagi ke Dalig Raya. Malam tanggal 8 itulah aku ditangkap polisi,” tuturnya.

Dia mengaku sangat menyesali perbuatannya. Sampai saat ini dirinya belum bisa tenang. Terkait adanya informasi bahwa keduanya memiliki hubungan asmara, JDG pun membantahnya.

“Aku normal. Dia yang suka samaku. Kami sudah beberapa kali jumpa, tapi baru kali itu dia (korban) memegang bagian sensitifku,” katanya.

Ditemui di lokasi yang sama, MG (45), ayah JDG mengaku bahwa keluarga mereka sangat prihatin terhadap keluarga korban.

“Kami merasa prihatin yang sangat mendalam dan merasa bersalah kepada keluarga korban atas peristiwa ini. Saya selaku ayahnya, meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban, meskipun kami tau akan sulit untuk dimaafkan,” ujar MG dengan raut wajah sedih sambil tertunduk.

“Saya tak tau lagi mau bilang apa. Biarlah anak saya diproses secara hukum. Kami orangtuanya memohon maaf kepada seluruh keluarga korban, keluarga besar SMK di  Pematang Raya dan semua yang merasa kehilangan atas kepergian Marhaposan. Mohon doa kepada anak saya, supaya tetap sehat dalam menjalani hukuman,” ujarnya lagi.

Dia juga mengaku, pihak keluarga JDG telah merencanakan akan menyambangi rumah keluarga korban untuk meminta maaf.

“Harapan saya, karena dia (JDG) masih muda, dia masih memiliki masa depan yang sangat panjang. Kami sangat berharap, hukumannya bisa diringankan,” pungkasnya.

Sebelumnya sesuai hasil rekonstruksi yang dilakukan, juga terungkap bahwa JDG sempat kesal karena korban memegang daerah sensitifnya berulangkali.

Baca Juga  Miliki 0,43 Gram Sabu Suranta Di Proses Hukum Sat Narkoba Polres Siantar

Adapun 42 adegan yang digelar, bermula saat JDG berada di ladang oppungnya pada 30 Mei 2016. Saat itu, tersangka menyimpan pisau belati di gubuk yang berada di sana. Keesokan harinya, tepat pada 31 Mei sekira pukul 14.00 WIB, JDG sekolah dan langsung pergi ke ladang di Juma Anggap, Huta Sibombong, Kelurahan Dalig Raya.

Di ladang oppungnya itu, ia kemudian menggali tanah. Saat itu JDG memang sudah merencanakan membuat kuburan untuk korban. Namun aksinya itu dilihat TJ, oppungnya. TJ pun mempertanyakan untuk kepentingan apa tanah di ladangnya digali. Namun saat itu JDG beralasan, tanah digali untuk tempat kompos. Sebelum galian usai, hujan pun turun. Selanjutnya JDG dan oppungnya pulang ke rumah. Sore harinya sekira pukul 17.00WIB, JDG chatting melalui facebook dengan Marhaposan. Setelah cerita panjang lebar, Marhaposan mengajak JDG jalan-jalan. Ajakan itu kemudian ditolaknya dengan alasan masih sibuk.

Selanjutnya, sekira pukul 19.00WIB, JDG kembali menjalin komunikasi lewat facebook. Saat itu JDG menyuruh korban datang ke gereja di Dalig Raya atau 20 meter dari rumahnya. Di sanalah keduanya bertemu dan akhirnya sepakat untuk jalan-jalan menikmati malam. Keduanya berboncengan mengendarai Honda Vario korban. Ketika hendak melaju menuju Kampung Baru, ternyata bensin sepedamotor itu hampir habis.

Baca Juga  Dua pesawat F-5E Tiger Milik Unit Akrobatik Patrouille Suisse Tabrakan di Udara

Alhasil, keduanya bergerak menuju SPBU di Pematang Raya dengan melintasi Jalan Jon Horailam Saragih atau dari depan Polres Simalungun.
Sampai di jalan tanjakan yang sepi, tiba-tiba saja korban memegang daerah sensitif JDG menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanannya fokus mengendarai sepedamotor. “Jangan, nanti saja,” ujar JDG saat itu, seperti yang diperankan dalam rekonstruksi. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga selesai mengisi BBM.

Kemudian Marhaposan bertanya kepada JDG ke mana lokasi yang tepat untuk mereka sambangi. Lalu JDG memberitahukan ladang oppungnya. Mereka pun berganti posisi mengendarai sepedamotor. Sebelum sampai di ladang, menurut pengakuan JDG, korban kembali memegangi daerah sensitifnya. Posisi korban saat itu sudah di belakang, duduk diboncengan tersangka. JDG pun berusaha menghindar dengan gerakan tubuhnya.

Setibanya di perladangan Juma Anggap, Huta Sibombong, keduanya berteduh di gubuk dan menyalakan api unggun. Namun saat berada di dekat api unggun yang menyala, korban kembali meraba daerah sensitif tersangka. Untuk kesekian kali, remaja asal Lubuk Pakam ini pun menepisnya.
Dengan perasaan kesal, JDG kemudian pergi ke samping gubuk hendak buang air kecil. Namun korban mengikutinya.

Begitu posisi keduanya dekat, JDG memeluknya dari belakang sambil memegang kembali daerah sensitif di tubuh korban. Melihat itu, tersangka langsung mengambil pisau belati dari atap gubuk. Pisau itu ditusukkan ke perut korban. Spontan, korban kesakitan. Lalu, JDG mendekat dan kembali menghunuskan belati ke bagian dada hingga korban terjatuh. Berhasil melumpuhkan korban, JDG masuk ke gubuk dan menyalakan api sambil menunggu korban meninggal dunia. Beberapa menit kemudian, JDG kembali mendekat dan mengecek apakah korban sudah meninggal dunia. Namun karena korban masih bernafas, ia kembali menancapkan belati ke perut korban.

Setelah meninggal dunia, JDG mengambil cincin dan kalung korban. Kemudian menguburkan jenazahnya di tanah galian yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah dikuburkan, JDG menutupi tanah itu menggunakan pohon jagung, agar tidak ketahuan. Saat itu, sandal, topi dan handphone korban dibakar. Sementara sepedamotor, cincin dan kalung dibawa ke rumah oppungnya. (kn/ms/jos/hez)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Polisi Berhasil Menangkap Kembali Sang Predator Anak di Bogor -kompasnasional

Arsip

Polisi Berhasil Menangkap Kembali Sang Predator Anak di Bogor

Arsip

Meski Ekonomi Lemah, Belanja Iklan Justru Cetak Rekor Rp 24,2 T

Kriminal

Merampok di Kampung Sendiri, Seorang Pemuda Dikenakan Pasal 365 KUHP

Arsip

Tersangka Sebut Anggota DPRD Bandar Sabu

Kriminal

BNN Tangkap Anggota Polri Jadi Pengedar Narkoba di Mukomuko

Berita

Ayah Ibu Kritis Diracun Anak
Polres Simalungun Pecat 4 Oknum Polisi Nakal-kompasnasional

Arsip

Polres Simalungun Pecat 4 Oknum Polisi Nakal

Arsip

Isu Marsha Tengker Labrak Raffi, Tetangga Apartemen Angkat Bicara