Kompas Nasional l PEMATANGSIANTAR-Pada tahun 2021 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) resmi mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional. Program evaluasi yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.
Hal inilah yang membuat Tanoto Foundation memberikan pembekalan bagi bapak/ibu guru di Kota Pematangsiantar untuk melatih atau membuat satu tulisan yang merupakan hasil praktik baik pembelajaran di satuan pendidikan, baik itu guru mata pelajaran maupun guru kelas.
Kegiatan tersebut menghadirkan 40 Guru dan beberapa Kepala Sekolah SD bersama dengan Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, untuk memberikan tips dan trick dalam menulis praktik baik di lingkungan sekolah.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Rosmayana Marpaung mengatakan, tujuan kegiatan itu untuk meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, dan pendidikan berkarakter serta Survei Lingkungan Belajar untuk meningkatkan mutu pendidikan di wilayah sekolah masing-masing khususnya dan pada umumnya di Kota Pematangsiantar.
“Literasi disini kemampuan menganalisis suatu bacaan dan memahami konsep di balik tulisan tersebut dan menuliskan kembali sesuai isi pemikiran kita. Sedangkan kompetensi numerasi berarti kemampuan menganalisis menggunakan angka,”ujarnya, Jumat (21/4/22).
Rosmayana menyebut bahwa asesmen kemampuan literasi dirancang untuk menguji kemampuan literasi membaca pada siswa. Siswa akan diukur kemampuannya dalam memahami, menggunakan dan mengevaluasi berbagai jenis teks ataupun tulisan.
Sedangkan asesmen kemampuan numerasi, sebut dia, ditujukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam hal numerasi. Siswa akan diuji untuk melihat kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika.
“Guru, siswa dan orangtua serta lingkungan satuan pendidikan sangat berperan penting dalam peningkatan literasi, numerasi dan pendidikan berkarater pada anak peserta didik,” ucap Rosmayana.
Selain itu, lanjut Rosmayana, metode mengajar juga menjadi salah satu faktor penentu dalam mengembangkan kemampuan bernalar siswa, misalnya anak didik sudah mulai terbiasa memberikan opini dengan baik di dalam kelas, atau memancing anak didik untuk menganalisis sebuah kasus atau tulisan di lingkungan sekolah.
Kemampuan menulis dan juga mengenali secara detail keadaan sekolah dapat meningkatkan banyak aspek kehidupan kita, mempengaruhi kemampuan kerja. Serta memicu anak didik untuk berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan penalaran yang akan sangat berguna dalam kehidupan mendatang.
“Kemampuan literasi yang dimiliki guru dapat memastikan siswa memiliki peluang efektif untuk berhasil dalam penelitian serta di kehidupan sehari-hari. Meningkatkan kualitas guru menjadi salah satu modal penting dalam membangun bangsa yang kuat,” tukasnya.
Menurut Rosmayana, dari kegiatan itu, guru dapat lebih memahami bagaimana teknik menulis yang baik, mengangkat isu praktik baik yang menarik, menggali informasi, serta mengetahui komponen penulisan yang terstandar. Tulisan tersebut menjadi peluang, media massa untuk menyediakan banyak rubrik pendidikan yang memungkinkan guru mengekspresikan ide ide inovatifnya.
“Dimulai dari hal hal sederhana, pada saat guru berinteraksi dengan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas, siswa dapat menjadi bahan dalam penulisan,” ungkap Rosmayana.
Dia menekankan pada guru – guru bahwasanya ada dua aktivitas yang penting harus dilakukan, tidak hanya sekedar menulis, tapi harus diiringi membaca. Hal ini menjadi sebuah dukungan dalam mewujudkan Asesmen Nasional (AN) yang nantinya akan memudahkan siswanya. Ia juga berharap para guru semakin bergairah dalam melaksanakan pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing.
Toni Tambunan.







