Home / Berita / Daerah

Jumat, 8 Januari 2021 - 21:18 WIB

Ketua Bhayangkari Daerah Sumut Ny Risma Martuani Sormin Kunjungi UMKM Pengerajin Tenun Ulos Batak

Viewer: 472
0 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 7 Detik

Kompas Nasional I Siantar

“Terus lakukan inovasi kembangkan inspirasi dalam motif-motif Ulos Batak trendi dan sesuaikan dengan perkembangan fashion saat ini.”

Ketua Bhayangkari Daerah Provinsi Sumatra Utara (Sumut) Ny Risma Martuarni Sormin didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Pematangsiantar Ny. Fifi Boy mengunjungi pelaku UMKM Pengrajin Tenun Ulos LPK Anugerah di Jalan. Hallintar  Kelurahan. Siopat Suhu Kecamatan Siantar Timur Kota Pematangsiantar, Kamis (07/01/ 2021)

Pemilik Usaha Tenun Ulos LPK Anugerah merasa senang dan bangga karena dikunjungi oleh rombongan Ketua Bhayangkari Sumatera Utara.

Pemilik LPK Anugerah Hotna Winda Br Panjaitan berbangga hati dengan menawarkan bermacam macam jenis Ulos kebanggaan suku Batak.

Pengusaha Tenun Ulos meceritakan kepada Ketua Bhayangkari Daerah sumatra Utara bahwa usaha nya sangat terpengaruh akibat Pandemi COVID-19 , omset penjualan turun drastis karena minimnya pengunjung.

Pada kesempatan ini Ketua Bhayangkari Daerah sumatra Utara Ny Risma Martuarni Sormin memberikan motivasi agar terus beraktivitas di tengah pandemi COVID-19.

“Terus lakukan inovasi dengan mengembangkan inspirasi dalam motif-motif sekaligus mengajak para perajin kreatif dalam menjadikan produk  Ulos yang trendi disesuaikan dengan perkembangan fashion saat ini,” kata Ny Risma Martuani Sormin memotivasi pengerajin Tenun Ulos Batak.

Terkait dengan apa yang disampaikan  Ny Risama Martuani Sormin, Filosofi Kain Ulos Batak memang
selain berguna sebagai penghangat badan dikala dingin menerjang, Ulos Batak sering kali dianggap sebagai jimat dalam arti ulos  diyakini mempunyai kekuatan magis sehingga mampu melindungi raga pemakainya dari roh jahat.

Baca Juga  SMK Negeri 2 Pematangsiantar Sukses Gelar Ujian Sekolah Berbasis Computer Based Test

Warna yang ada pada kain ulos sebenarnya juga mempunyai arti tersendiri.

Untuk diketahui, Ulos Batak adalah kain tenun khas Batak yang berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, simbol kasih sayang dan simbol persatuan.

Dilansir dari Simarmata.or.id untuk Kompasnasional.com,
Ulos Batak adalah sebagai simbol restu dan kasih sayang, karena hal itu sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong”, yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin.

Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Dahulu nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung, demikian sebutan yang disematkan sejarah pada mereka.

Hal ini disebabkan kebiasaan mereka tinggal dan berladang di kawasan pegunungan. Dengan mendiami dataran tinggi berarti mereka harus siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang. Dari sinilah sejarah ulos bermula.
Pada awalnya nenek moyang mengandalkan sinar matahari dan api sebagai tameng melawan rasa dingin. 
Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari awan dan mendung sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari rasa dingin semakin menjadi-jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak begitu praktis digunakan waktu tidur karena resikonya tinggi. 
Karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak akhirnya nenek moyang Orang Batak berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis.

Baca Juga  Kapolres Samosir Tanggapi Perkembangan Situasi Kinerja Satuan Fungsi Polres Samosir 

Maka lahirlah ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.
Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya. Sesuai dengan hukum alam, ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang.

Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal, dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih tebal, lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.

Terus lakukan inovasi dengan mengembangkan inspirasi dalam motif-motif sekaligus mengajak para perajin kreatif dalam menjadikan produk  Ulos yang trendi disesuaikan dengan perkembangan fashion saat ini,” kata Ny Risma.
(Son)

Editor: Nilson Pakpahan

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Di Duga Pembangunan Jalan Cor di Kecamatan Talang Kelapa Asal – Asalan dan Langgar UU KIP No 14 Tahun 2008

Berita

Jelang Kegiatan Merah Putih Tapal Batas (MPTB), Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Melaksanakan Karya Bhakti Pembersihan 

Berita

Jajaran Polres Ketapang Kunjungi Kodim 1203, Ucapkan Dirgahayu HUT TNI Ke – 76

Arsip

Menyalip Dari Sebelah Kiri, Eka Terjatuh dan Tewas Terlindas Truk

Berita

Wanita Penghina Ahok Menyesal: Saya Sudah Tua, Punya Penyakit Kronis

Berita

Amankan Malam Takbiran Idul Adha Polres Sintang Kerahkan 240 Personel

Berita

Tingkatkan Militansi Prajurit, Kasdam XII/Tpr Pimpin Acara Tradisi Penerimaan Warga Baru

Berita

Sempat Jadi Polemik, Teka-teki Kenapa Ngabalin Ikut Kungker Eks Menteri Edhy ke Hawai Terjawab