Home / Internasional

Senin, 19 Juli 2021 - 20:50 WIB

Inggris Cabut Jaga Jarak, Pemerintah Disebut Tak Bermoral

Viewer: 455
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 44 Detik

Kompasnasional l Inggris mulai mencabut sebagian besar aturan jaga jarak pada hari ini, Senin (19/7), mengabaikan peringatan pakar kesehatan akan bahaya peningkatan kasus Covid-19 yang mengancam negara tersebut.

Pakar pun menganggap pemerintah tak bermoral.
Di berbagai penjuru Inggris, para warga merayakan “Hari Kebebasan” karena pemerintah mencabut aturan jaga jarak, termasuk kewajiban memakai masker, karena menganggap mereka sudah berhasil menanggulangi pandemi Covid-19.

Dengan aturan ini, semua tempat hiburan, termasuk kelab malam, bioskop, dan mal, bahkan stadion olahraga sudah beroperasi seratus persen.

Para warga langsung membanjiri kelab-kelab malam, salah satunya Nicola Webster Calliste, yang datang ke tempat hiburan itu bersama teman-temannya.

“Saya pikir, ya, kami kelewatan Tahun Baru, jadi mengapa tidak merayakannya sekarang? Ini seperti babak baru” ucapnya kepada AFP.

Baca Juga  ‍KPUD Simalungun Butuh Dana Rp 12 M, Pemkab Berencana Menyiapkan dalam Bentuk Barang

Meski kebanyakan warga bersukacita, para pakar kesehatan di Inggris meradang. Mereka mengaku kesal karena pemerintah tak mengindahkan peringatan mereka akan bahaya lonjakan Covid-19.

Perdana Menteri Boris Johnson memang menyatakan bahwa Inggris sudah bisa melonggarkan aturan karena program vaksinasi mereka berhasil, apalagi jenis vaksin yang digunakan juga unggulan, seperti Moderna.

Namun, para pakar memperingatkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 di Inggris masih sangat tinggi, apalagi dengan kemunculan virus corona varian Delta.

“Kebijakan pemerintah ini tak bermoral dan merupakan kebodohan epidemiologis,” ujar ahli kesehatan publik dari Universitas Bristol, Gabriel Scally.

Pada Jumat (16/7) lalu saja, kasus Covid-19 di Inggris mencapai 51.870 dalam 24 jam. Pemerintah Inggris melaporkan bahwa kasus harian Covid-19 pada Jumat itu merupakan yang tertinggi sejak pertengahan Januari lalu.

Baca Juga  Loujain al-Hathloul: Aktivis 'penganjur perempuan boleh mengemudi di Arab Saudi' dibebaskan dari penjara

Dari keseluruhan data tersebut, 3.964 di antaranya menjalani perawatan di rumah sakit. Angka rawat inap ini juga menjadi yang tertinggi sejak Maret lalu.

Kepala Tenaga Medis Inggris, Chris Whitty, mengatakan bahwa angka rawat inap akibat Covid-19 di negaranya meningkat dua kali lipat dalam tiga pekan.

Menurutnya, jika tren ini terus bertahan, Inggris dapat menghadapi lonjakan pasien di rumah sakit hingga mencapai “angka yang mengerikan.”

“Kita sama sekali belum pulih dari semua ini. Kita memang lebih baik karena program vaksin, obat, dan lain-lain. Namun, perjalanan Inggris masih jauh, apalagi dunia,” ucap Whitty sebagaimana dikutip Associated Press. (CNNI/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Dalai Lama sebut muslim Rohingya bakal ditolong Buddha
Polisi Tilang Perdana Menteri Karena Helm-kompasnasional

Arsip

Polisi Tilang Perdana Menteri Karena Helm

Internasional

Salah Jack Ma Adalah: Hampir Sekuat Negara China
Dituduh Mata-mata oleh Korut, Warga AS Dihukum 10 Tahun Kerja Paksa-KompasNasional

Arsip

Dituduh Mata-mata oleh Korut, Warga AS Dihukum 10 Tahun Kerja Paksa

Internasional

Pendiri TikTok Mundur, Ngeri Lihat Nasib Jack Ma
Tidur Nyenyak,Gadis 12 Tahun Tewas Termutilasi Macan-kompasnasional

Arsip

Tidur Nyenyak,Gadis 12 Tahun Tewas Termutilasi Macan

Internasional

Karyawan Mercedes Benz Hancurkan 50 Unit Mobil di Pabrik Lantaran Kesal Dipecat

Internasional

Senat AS Setujui Lloyd Austin Menhan Kulit Hitam Pertama