Viewer: 682
0 0

Home / Ekonomi

Senin, 4 Januari 2021 - 17:52 WIB

Fintech Jack Ma Dijegal, China Banyak Belajar dari Raksasa Amerika

Viewer: 683
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 24 Detik

Kompasnasional l Miliarder Jack Ma, melalu perusahaannya Ant Group telah dijegal untuk meraksasa. Sebagaimana diketahui, IPO perusahaannya Ant Financial, fintech milik Jack Ma telah dihentikan.

Hal ini karena pemerintah China dinilai tak ingin perusahaan teknologi di negaranya menjadi sangat meraksasa seperti di Amerika Serikat (AS).

Beberapa waktu lalu, Jack Ma bahkan mengkritik terang-terangan regulasi keuangan China hingga membuat pemerintah China bertindak. Alhasil, berbagai regulasi baru pun diterapkan, bahkan China mengeluarkan mata uang digital yuan.

Dilansir dari Asia Times di Jakarta, Jumat (11/12/2020) China telah menyadari bahwa upaya memperlonggar regulasi dan membiarkan kompetisi tanpa banyaknya aturan akan membuat raksasa teknologi tersebut terlalu berkuasa hingga mendominasi. Mereka tak ingin terjebak seperti Amerika.

Baca Juga  Perbankan Masih Sulit Tingkatkan Kualitas Kredit

25 tahun yang lalu, perusahaan teknologi Amerika mengambil risiko dan merusak model bisnis yang sudah ada.

Saat ini, mereka adalah layanan publik yang baru, meraih pendapatan dari monopoli mereka dengan mengontrol pasar.

China ingin menghindari jebakan Amerika,” ujar pakar ekonomi David Goldman.

Seperti Apple di Amerika, Apple sangat kaya dengan uang tunai bahkan telah membeli kembali USD327 miliar sahamnya sejak tahun 2012. Itulah mengapa harga sahamnya naik 82% dalam enam tahun terakhir meskipun pendapatan operasinya hampir tidak berubah.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Terus Bergerak Naik

Lalu, Facebook, Google ataupun Amazon begitu menguasai pasar di AS. Bahkan, 70 persen dari semua pendapatan iklan digital, masuk ke Facebook dan Google, yang melumpuhkan media independen Amerika untuk mendapatkan pendapatan iklan.

Alhasil, kini Facebook dan Google telah digugat oleh regulator karena dianggap menyalahgunakan posisi dominan untuk menekan para kompetitor yang lebih kecil.

Perusahaan teknologi China pun sudah sangat powerful. Alibaba dan JD.com menguasai 75% e-commerce. WeChat milik Tencent menangani 60% dari seluruh pembayaran di China,” ucap Jean Dominique Seval, direktur Soon Consulting. (WE/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

24 Oktober 2017, transaksi non-tunai di jalan tol capai 91 persen

Berita

BWS Papua Kembangkan 3.200 hektare Lahan Irigasi yang Bisa Tingkatkan Perekonomian

Berita

Dinilai Gagal Revitalisasi Pasar Timah, Fraksi PDIP DPRD Medan Siapkan 1.000 Massa

Berita

Petani Butuh Kepastian Harga Pascapanen

Ekonomi

KPK Panggil Presdir Lippo Karawaci Terkait Kasus Suap Meikarta
Dua Pekan Jelang Ramadan, Harga Daging Ayam Merangkak Naik-KompasNasional

Arsip

Dua Pekan Jelang Ramadan, Harga Daging Ayam Merangkak Naik

Arsip

Ini Alasan Ketua DPR Setuju Harga Rokok Naik Rp 50 Ribu Per Bungkus

Ekonomi

How One Furniture Manufacturer Goes ‘Beyond Sustainability’