Home / Arsip / Arsip 2016 / Berita / Reviews

Selasa, 10 Mei 2016 - 11:23 WIB

Di Balik Kerennya Pilot Jet Tempur, Hidup Pas-pasan

Viewer: 735
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 51 Detik

Menjadi seorang pilot jet tempur di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) bagi sebagian orang menganggap sesuatu hal yang keren. Sebuah bayangan tinggi muncul, di mana hidup terjamin dan bisa tampil keren saat berbaur dengan masyarakat sipil.

Jangan sepenuhnya percaya dengan bayangan itu?

Kepala Staf TNI AU, Marsekal Agus Supriatna mengungkap kehidupan seorang pilot jet tempur yang baru saja lulus pendidikan. Meski, setelah lulus pangkatnya sudah menjadi perwira muda, yang notabene bisa menjadi pilot.

Lewat bukunya bertajuk “Dingo: Menembus Limit Angkasa”, terbitan Penerbit Buku Kompas yang ditulis oleh Bambang Setiawan dan Budiawan Sidik Arifianto, Agus membeberkan gaji pertama yang diterima angkatannya setelah lulus Akademi Angkatan Udara (AAU). Sejak di skadron pendidikan, penghasilannya hanya sekitar Rp 189.000.

Gaji sebesar itu baru diketahui istrinya sesaat setelah melangsungkan pernikahannya. Padahal, semasa memadu kasih dia selalu mendapatkan hadiah mahal atau diajak nonton bersama keluarganya.

Baca Juga  Bocah 4 Tahun yang Tewas Diperkosa dan Dibakar Itu Ternyata Anak Ketua Partai

“Setelah menikah saya baru tahu suami saya uangnya hanya segitu. Saya langsung membayangkan masa pacaran dia harus ke Bandung, nraktir-nraktir. Kadang dia tanya ke saya, kamu maunapa? Lalu dia kasih,” ungkap Bryan Timur Rahmawati, istri Agus dalam buku biografinya.

Meski bergaji minim, namun uang tersebut dinilai cukup untuk membiayai kehidupannya. Hanya saja Bryan harus pandai-pandai menyisihkan uang untuk diberikan kepada orangtua Agus dan sisanya membayar kreditan.

Hal yang sama juga diceritakan oleh juniornya Fachmy Adamy. Sebagai perwira pertama yang menjadi penerbang setelah lulus Sekbang dan bergabung di skadron, terutama mereka yang masih berpangkat Letnan Dua, penghasilan yang didapatkan sebesar Rp 94 ribu. Dia yakin angka itu masih lebih besar dibandingkan penghasilan yang didapatkan Agus di hari pertamanya sebagai pilot.

Baca Juga  Temuan KNKT: Lion Air Pecah saat Sentuh Laut dengan Kecepatan Tinggi

“Gaji saya dulu Rp 94 ribu. Saya tidak membayangkan zaman Pak Agus tahin 1983, pasti lebih kecil lagi,” ungkap Fachry.

Sebagian besar penghasilannya itu habis digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan sisanya dipakai buat keperluan rekreasi, makan dan lain sebagainya.

Untuk menyiasati pengeluaran, terkadang mereka berangkat bersama-sama ke kota dengan menggunakan kendaraan dinas. Sedang kuncinya dipegang oleh perwira seniornya. Jika pemegang kunci akan berangkat, maka juniornya akan menghampiri dan meminta izin untuk ikut.

“Jam 7 malamnya kami sudah rapi dan berangkat empet-empetan di mobil. Mobilnya Toyota Hi-Ace dan Land Rober,” kenangnya.

Meski hidup kekurangan, namun suasana kekeluargaan masih sangat terbangun (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Antisipasi Kepunahan, Bupati Tapsel Lepas Ratusan Anak Penyu

Berita

Pemkot Pontianak Siapkan Fasilitas Isolasi, Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19

Berita

Inafis Polres Tapteng Berhasil Ungkap Identitas Mayat Lansia di Desa Mombang Boru

Berita

Siap Diperiksa Kejagung Hari Ini, Menpora: Ini Pengalaman Berharga

Berita

Tingkatkan Pelayanan Administrasi Veteran, Babinminvetcaddam XII/Tpr dan Ditjen Pothan Kemenhan RI Gelar Workshop

Berita

Dandim Kabupaten Sambas Resmi Tutup Kegiatan Karya Bakti TNI, Tahun 2021, Bersama Bupati H.Satono .

Arsip

Asal Mula Bareskrim Usut Dugaan Korupsi Bansos Yang Menyeret Sylvi

Asahan

Jansen Hutasoit Terpilih Menjadi Ketua POBSI Asahan