Home / Arsip / Arsip 2017 / Berita / Reviews

Jumat, 13 Januari 2017 - 15:47 WIB

Cerita Jogja Nyah Nyoh Penambal Jalan, Dikepung Warga & Dikasih Uang

Viewer: 616
0 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 19 Detik

Sudah tak terhitung lagi berapa jalan berlubang yang sudah ditambal Jogja Nyah Nyoh selama hampir dua tahun terakhir ini. Selain karena tak ingin menghitung jumlahnya, banyaknya jalan berlubang di DIY juga tak terhitung jumlahnya.

“Saya tidak menghitung, target kita bukan jumlah. Kita inginnya gotong royong jadi greget lagi. Pemerintah dan bukan pemerintah itu kita inginnya bisa bersama-sama gotong royong memperbaiki jalan berlubang,” ujar Arditya Eka Sunu, koordinator Jogja Nyah Nyoh kepada Merdeka.com, Rabu (11/1) malam.

Mengawali kegiatannya pada 2015 dan mulai menyandang nama Jogja Nyah Nyoh sejak Februari 2016, komunitas sosial ini rutin menambal dan menandai jalan-jalan berlubang yang ada di wilayah DIY dengan menggunakan pilox putih. Bagi mereka, jalan berlubang adalah musuh bersama para pengguna jalan.

“Nyah nyoh itu dari Bahasa Jawa. Artinya ikhlas memberi tanpa mengharap ada balasan. Lewat gerakan ini kami ingin membangkitkan lagi budaya gotong royong. Kami juga ingin mengajak masyarakat untuk kembali peduli pada lingkungan sekitar,” jelas Adit.

Sebelum beraksi menambal lubang, mereka harus melakukan survei jalan terlebih dulu. Caranya pun unik, saat berangkat kerja, masing-masing personel Jogja Nyah Nyoh selalu melewati jalan yang berbeda.

“Ya survei dulu. Kami prioritaskan jalan yang padat dan ramai dilalui pengendara, artinya potensi kecelakaan akibat lubang itu besar,” kata Adit.

Berbagai kisah unik sampai menegangkan mewarnai aksi Jogja Nyah Nyoh ketika menambal jalan berlubang. Salah satunya, dikepung warga karena dikira mau tawuran. Saat dikepung dan akan dimassa warga, mereka belum menggunakan nama Jogja Nyah Nyoh. Setelah kejadian itu, mulailah mereka menyandang nama Jogja Nyah Nyoh supaya lebih mudah dikenali dan menghindari salah paham dengan warga.

Baca Juga  Wakapolda Kalbar Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi di Gaia Bumi Raya City Mall

“Kita dulu pernah di kepung warga saat menambal jalan berlubang di dekat Stadion Bantul. Kita dikira mau ribut (tawuran). Waktu itu banyak orang di pinggir jalan. Kita mau dimassa saat itu, tetapi langsung kita jelaskan tujuan kita,” ujar Adit sambil tersenyum mengenang kisah mereka.

Adit kembali tersenyum mengingat pengalaman Jogja Nyah Nyoh sedang menambal lubang di pinggir jalan. Semisal ada beberapa pengendara yang melempar uang ke arah mereka. Serentak Adit dan beberapa teman dari Jogja Nyah Nyoh lalu mengejar pengendara itu. Uang yang dilempar tadi dikembalikan ke pemiliknya. Mereka lantas menjelaskan maksud dan tujuan aksi Jogja Nyah Nyoh.

“Kita tidak cari uang di sini. Ini di Jogja. Kalau mau ikut urunan, bukan gitu caranya. Kita kejar yang lempar uang. Kita kembalikan uangnya. Kalau perlu kita tambahi uangnya. Padakke kene ra duwe duit (dikiranya kami tidak punya uang apa),” ujar Adit sambil tersenyum.

Aksi spontanitas dari warga juga kerap muncul saat Jogja Nyah Nyoh menambal jalan berlubang. Biasanya ada saja warga yang tiba-tiba ikut membantu. Belum hilang dari ingatannya saat ada seorang pengendara mobil yang turun dari kendaraannya untuk membantu aksi Jogja Nyah Nyoh. Pengemudi itu memarkirkan mobil dan lampu untuk penerangan kegiatan menambal jalan.

Baca Juga  Bupati Ajak Para Pengusaha, BUMN dan Perbankan Bersama-sama Membangun Simalungun

“Orangnya pun ikut membantu. Malah saking dramatisnya, orang itu sampai ikut menambal tanpa pakai alat. Pakai tangan telanjang. Katanya, itu wujud kekesalannya karena jalan berlubang dan sudah lama tak diperbaiki,” tutur Adit.

Adit menceritakan ada beberapa ruas jalan berlubang yang berulang kali harus ditambal karena selalu mengalami kerusakan. Hal ini karena setelah ditambal dan tak kunjung diperbaiki, akhirnya kembali berlubang dan terpaksa ditambal kembali dengan semen.

“Salah satunya di perempatan lampu merah MM UGM. Dulu pertama kali kami melakukan kegiatan menambal jalan ya di situ. Sampai sekarang sudah empat kali kami tambal. Tapi belum diperbaiki juga sama yang berkewajiban. Lubangnya berukuran besar,” terang Adit.

Selain di perempatan MM UGM, ada juga lubang lain yang sudah berulang kali ditambal yaitu di dekat Jogja Expo Center (JEC). Seingat Adit, selama kurun waktu satu semester atau enam bulan, sudah dua kali lubang itu ditambal oleh Jogja Nyah Nyoh.

Adit mengaku Jogja Nyah Nyoh pernah dipanggil Gubernur DIY pada bulan Juni 2016 lalu. Saat itu ia dan kawan-kawannya, ditanya mengenai gerakan Jogja Nyah Nyoh dan di hubungkan dengan dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Kami ditanya apa konsep gerakannya. Motivasinya apa? Kami justru diapresiasi oleh Gubernur. Dan dipertemukan dengan dinas terkait supaya ada sinergi untuk memperbaiki jalan yang berlubang,” ucap Adit (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Keluarga Besar SMK Swasta Persiapan Pematangsiantar Gelar Perayaan Natal Bersama 2021 

Berita

Modus Penipuan Yang Mengatasnamakan Kapolres Melawi*

Berita

Walikota P.Sidimpuan Lantik 23 ASN Eselon III dan lV

Berita

Walikota P.Sidimpuan Tabur Bibit Ikan Lele di Batunadua

Berita

KPK dan Polisi Kerja Sama Buru Pembuat Hoaks Jenderal Tito Tersangka

Berita

Pesan Natal GMKI 2020″Lihatlah, Kristus Menjadikan Semuanya Baru”

Berita

Upaya Meningkatkan IKM, Dekranasda Kampar Gelar Temu Ramah Dengan Pengerajin

Asahan

Panen Turun Harga Anjlok, Petani Sawit Padang Lawas Menjerit