KompasNasional.id.com.Toba | Pandemi Covid-19 masih dalam tahap tantantangan serius di bumi ini, tetapi masyarakat harus bergerak mengikuti arah perkembangan peningkatan ekonomi demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pandemi civid-19 yang meluluhlantakan perekenomian global tidak membuat kemauan masyarakat takut menyuarakan kebenaran dan mengacungkan tangan demi untuk suatu tuntutan kebenaran.
Rabu 6/10/2021 masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Gerakan Rakyat (Gerak) Tutup perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL) melakukan aksi demonstrasi damai, dimulai dari tugu Pahlawan Revolusi Mayjen Purn D.I. Panjaitan Balige long march sampai ke Kantor Bupati Toba.
Sesampai di kantor Bupati Aksi Aliansi tutup TPL berorasi
yang dibawakan Pak Rini Simanjuntak menyuarakan berbagai tuntutan tutup TPL, kembalikan tanah adat, sudah 30 tahun TPL merusak lingkungan Danau Toba cetusnya dengan bersemangat sambil memakai ulos batak
di lapangan upacara kantor Bupati Toba.
Rombongan demonstran diterima Wakil Bupati Toba Tony M.Sinanjuntak,SE didampingi Assisten 3 Parulian Siregar, Kadis Lindup Mintar Manurung, staf ahli Darwin Sianipar.
Saat koordinator lapangan Benget Sibuea
di jumpai KompasNasional mengatakan Para demonstrasi menuntut harus bertemu Bupati Toba, namun yang akhirnya hadir Wakil Bupati.
Wakil bupati mengatakan menampung seluruh aspirasi masyarakat serta mengajak 5 orang utusan para demonstran untuk duduk bersama di kantor wakil bupati,namun para demonstran merasa enggan dengan dalih kami makan dulu kilah salah satu dari mereka.
Koordinator lapangan Benget Sibuea ( mas Boi ) ketua Aliansi Gertak
di jumpai KompasNasional mengatakan bahwa aksi ini adakah Solidaritas dan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan Tanah Batak termasuk keindahan Danau Toba, peserta aksi ini sebanyak 400 orang, kami menuntut agar perusahaan PT.Toba Pulp Lestari (TPL) segera di tutup, perusahaan ini sudah ganti baju katanya, sekarang PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang sebelumnya bernama PT. Inti Indorayon Utama (IIU),tetapi kiprahnya tidak berganti,
tanah adat batak jangan di ambil alih perusahaan, jangan ada lagi milik rakyat diambil alih oleh perusahaan, salah satu daerah Sigapiton,ujarnya.
Hal senada juga di gadang- gadang salah satu juru Orasi pak Rini Simanjuntak.
Tuntutan sepenuhnya kembalikan tanah adat kepada masyarakat Tano Batak.
Perusahaan TPL harus ditutup biar ada kesegaran alami di Tano Batak.
Pihak TPLmengabaikan tuntutan warga masyarakat yang pro tutup, tidak pernah membuka diri, egoisnya tinggi, tidak perduli ujar Mas Boi.
Diskusi dengan dengan pihak perusahaan tidak pernah dan selalu mengabaikan dan juga selalu mengadalkan aparat keamanan menghadapi rakyat.
Aparat pihak keamanan adakalanya mengintimidasi aliansi sambung Boi.
Bila aliansi meminta ijin aksi pihak keamanan selalu membuat alasan.
Keinginan Aliansi kepada Bupati Toba agar Pemkab jujur melaksanakan hasil Verifikasi Team terpadu dari kementerian Kementerian Lingkungan Hidup ( KLH). ( LamS)
Penulis : Lambok Sianturi







