Home / Internasional

Selasa, 19 Januari 2021 - 22:23 WIB

Kota Tertua di Benua Amerika Terancam Musnah akibat Virus Corona

Viewer: 418
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 7 Detik

Kompasnasional l Setelah bertahan selama 5.000 tahun, Caral kota tertua di benua Amerika kini terancam musnah akibat efek pandemi virus corona.

Situs arkeologi yang steril dari peradaban manusia modern itu sekarang mulai dirambah warga sekitar.

Mereka mengeklaim, pandemi virus corna membuat tak ada pilihan lain selain menduduki kota sakral itu.

Ruth Shady arkeolog yang menemukan situs Caral di Peru, bahkan mendapat ancaman pembunuhan jika tidak melepas penelitiannya di sana.

Para arkeolog mengatakan ke tim AFP yang mengunjungi Caral, bahwa invasi dan penghancuran liar dimulai pada Maret ketika pandemi berujung pada lockdown nasional.

“Ada orang-orang yang datang merusak situs ini, yang adalah properti negara, dan mereka memanfaatkannya untuk bercocok tanam,” kata arkeolog Daniel Mayta kepada AFP.

“Ini sangat berbahaya, karena mereka menghancurkan warisan budaya berusia 5.000 tahun.”

Caral berlokasi di lembah sungai Supe, sekitar 182 kilometer di utara ibu kota Lima.
Kota ini berkembang antara 3.000-1.800 SM di gurun yang gersang. Caral adalah tempat lahirnya peradaban di Amerika.

Baca Juga  Iran Terbitkan Surat Perintah Penangkapan Donald Trump

Orang-orangnya sezaman dengan Firaun di Mesir dan peradaban Mesopotamia.

Bahkan peradaban Caral lebih dulu eksis dibandingkan Kerajaan Inca yang jauh lebih terkenal pada abad ke-45.

Namun warga tidak peduli dengan fakta-fakta itu. Mereka mengambil alih 10 hektar situs arkeologi Chupacigarro, untuk menanam alpukat, buah-buahan, dan kacang.

Mereka memanfaatkan minimnya pengawasan polisi selama 107 hari lockdown nasional.

“Keluarga-keluarga itu tidak mau pergi,” kata Mayta (36).

“Kami sudah menjelaskan ke mereka bahwa ini Situs Warisan Dunia UNESCO dan yang mereka lakukan pelanggaran berat bisa membuat masuk penjara.”

Caral dimasukkan ke situs Warisan Dunia UNESCO pada 2009. Luasnya 66 hektar dan didominasi 7 piramida batu yang tampak menyala saat disinari matahari.
Peradaban Caral diyakni berjalan damai, tanpa senjata maupun benteng.

Baca Juga  PM Shinzo Abe Mengumumkan Berakhirnya Darurat Virus Corona di Jepang, Masyarakat Bersiap Untuk Hidup Dengan Normal Baru

Situs ini sempat ditutup karena pandemi, dan dibuka lagi pada Oktober dengan harga tiket 3 dollar AS (Rp 42.000).

Selama lockdown, beberapa peninggalan arkeologi dijarah dari Caral. Pada Juli polisi menangkap 2 orang karena merusak sebagian situs yang berisi mumi dan keramik.

Arkeolog diancam mati
Shady adalah direktur zona arkeologi Caral dan sudah menelitinya sejak 1996 saat penggalian dimulai.

Dia mengatakan, para tuan tanah yang menempati tanah negara atau tanah ilegal yang dijual demi keuntungan pribadi, berada di balik invasi itu.

“Kami diancam orang-orang yang memanfaatkan kondisi pandemi untuk menduduki situs arkeologi untuk mendirikan tenda-tenda dan mengolah lahan dengan mesin… menghancurkan semua yang mereka lihat,” kata Shady.

“Suatu hari mereka menelepon pengacara kami, dan berkata kepadanya mereka akan membunuhnya bersama kami dan mengubur kami lima meter di bawah tanah (jika tidak menghentikan penelitian).”. (K/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Internasional

KPU Myanmar Bubarkan Partai Aung San Suu Kyi
Ket/Foto: dari kiri ke kanan, President Lions Club Golden Estate Darmawan Yusuf, SH,SE,M.Pd,MH, Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Ikhwan Lubis,SH,MH, Wakapolres Belawan Kompol Taryono Raharja Sik SH dan Past President hartono Ramaly,SH,M.Si.

Berita

Menyambut HUT Bhayangkara 73 LIons Club Golden Estate Menggelar Bakti Sosial

Berita

Bos Yakuza Jepang Tertangkap di Thailand berkat Foto Tatonya Viral

Berita

Jelang Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Sediakan Masjid Keliling Untuk Pengunjung Muslim

Berita

500an massa menghadiri Pelantikan DPW DJM 1 Kali Lagi di Bali

Internasional

Pembunuh di Spanyol Tunjukan Kepala Manusia Kepada Anak-anak, Awalnya Dikira Lelucon Halloween Senin, 2 November 2020 02:13 WIB

Internasional

Pengacara Indonesia di Berlin: Menjembatani Hukum Indonesia dan Jerman

Berita

Polri Terima Red Notice Terkait Kasus Alum Bocah Argentina