Kompas Nasional.com | Kubu Raya Kalbar– Menekan angka stunting, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya fokus melakukan berbagai upaya.
Hasilnya, jumlah stunting yang cukup tinggi pada kurun 2015-2017 bahkan mencapai 25,6 persen di 2018, berhasil ditekan hingga menjadi 8,7 persen pada akhir November 2020.
Pencapaian itu jauh melebihi target nasional dan Kubu Raya yang sebesar 14 persen pada 2024. Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengatakan kondisi stunting atau kekurangan gizi kronis pada periode awal pertumbuhan dan perkembangan anak kini telah menjadi isu nasional.
“Presiden sudah menegaskan berkali-kali dan ini sebagai indikator melihat kualitas dari generasi.
Karena itu, stunting menjadi sangat penting untuk kita cegah dengan maksimal, yaitu dimulai dengan sistem pendataan.
Mungkin dulu sistem itu tidak tertib dan terintegrasi,” tuturnya saat berbincang dengan Kompas TV Pontianak dalam acara Sapa Kubu Raya pada pada Senin (7/12) lalu.
Muda mengungkapkan upaya penanganan stunting di Kubu Raya dimulai dengan membuat sejumlah regulasi.
Di antaranya peraturan bupati tentang gerakan pencegahan stunting di Kabupaten Kubu Raya.
Di mana di dalamnya ada keterlibatan masyarakat, posyandu, dan puskesmas di dalam penanganan stunting.
Upaya penguatan pada sistem pendataan ibu hamil secara cepat, efektif, dan lengkap juga dilakukan.
Data tersebut mencakup risiko kehamilan dan hasil pemeriksaan yang termonitor dengan tersentral di Dinas Kesehatan Kabupaten.
Kesemua itu, menurut dia, efektif untuk menggerakkan partisipasi seluruh elemen terkait di desa.
“Jadi strateginya, stunting ini kan butuh partisipasi.
Kalau kita tidak bergerak, berarti terjadi pembiaran karena harusnya bisa dicegah dengan cara yang komprehensif, terukur, dan sistematis,” tuturnya.
Kemudian pada 2019, dilakukan langkah inovasi dengan program proaktif Selasa-Jumat (Salju) Terpadu.
Pada program pelayanan jemput bola ini, di hari Selasa dilakukan pelayanan kesehatan keluarga seperti pemeriksaan ibu hamil, balita, imunisasi, pemberian vitamin, KB, kandungan, dan persalinan.
Adapun di hari Jumat diberikan pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular dan tidak menular.
Dalam program Salju Terpadu para petugas kesehatanlah yang aktif mendatangi kediaman warga.
“Kita juga membuat regulasi berupa pembebasan dari seluruh biaya di seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan masyarakat lainnya.
Ini penting untuk membuat masyarakat rajin memeriksakan kesehatannya termasuk bagi ibu hamil,” tambahnya.
Regulasi lainnya, lanjut Muda, yaitu peraturan bupati tentang percepatan penurunan stunting.
Di mana dinas kesehatan kabupaten membuat skema-skema kerja yang proaktif.
Seperti menjangkau warga yang tidak hadir di fasilitas-fasilitas kesehatan pemerintah.
Selain itu salah satu terobosan signifikan yang dilakukan pemerintah kabupaten adalah mengadakan peralatan Ultrasonografi (USG) portabel untuk 20 puskesmas di Kabupaten Kubu Raya.
Melalui fasilitas tersebut, kondisi kehamilan dan kesehatan ibu serta janin dapat diketahui sejak dini.
“Dampaknya kondisi kandungan bisa diketahui termasuk risiko kehamilan dan ancaman stuntingnya akan nampak.
Nah, ketika kita tahu ini, maka sudah bisa diberikan catatan dan rekomendasi kepada yang bersangkutan untuk memperkuat kandungan dan diberikan intervensi terhadap makanan tambahan,” terangnya. Regulasi berikutnya, Muda meneruskan, yakni peraturan bupati yang mendorong desa-desa untuk menyediakan makanan tambahan bagi ibu hamil.
Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan dana desa yang ada.
“Desa diajak kepung bakul untuk bergerak juga karena merekalah sebenarnya yang lebih dekat dengan masyarakat.
Jadi desa juga punya tanggung jawab di seribu hari pertama kehidupan,” sebutnya. Muda menyatakan stunting dapat dicegah.
Yang terpenting tidak terlambat baik dalam tindakan maupun keputusan.
Karena itu, sistem yang kuat harus dibangun di daerah.
“Ini hanya soal fokus kita dan sampai sejauh mana kita mendaratkan solusi dan mengepung ibu-ibu hamil.
Agar jangan sampai terlambat dalam segala hal,” pesannya.
Dirinya menambahkan, persoalan stunting tidak terkait dengan seberapa besarnya anggaran.
Melainkan bagaimana sistem dan pola sinergi yang dibangun.
Sehingga semua elemen baik pemerintah daerah maupun masyarakat dapat bergerak bersama.
“Kebahagiaan yang luar biasa melihat lompatan capaian penurunan ini.
Bukan soal kita gagah-gagahan, tapi ini menunjukkan bahwa ketika itu dilakukan upaya dengan masif, kita bisa bersama menyelamatkan anak-anak supaya tidak stunting,” ucapnya.
Muda Mahendrawan menegaskan dirinya menargetkan zero atau nol stunting di Kubu Raya.
Karena itu, desa-desa kini juga mengalokasikan anggaran untuk pembelian mesin USG dan makanan tambahan.
Dirinya mengingatkan agar tidak cepat puas dengan capaian penurunan stunting yang cukup drastis. Sebab tantangan selalu ada terlebih di tengah pandemi.
“Pelayanan kesehatan ibu anak tidak berkurang sama sekali karena ini masalah yang penting menyangkut generasi.
Dan hidup dengan layak itu adalah hak manusia sejak dalam kandungan sehingga harus diperhatikan. Psikologi ibu juga harus sehat jangan sampai cemas.
Mereka yakin pemerintah akan hadir mengurusnya sehingga punya semangat tinggi untuk sehat
” tuturnya. Menutup diskusinya, Muda mengucapkan terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan dan pihak terkait lainnya yang dinilainya sangat militan melayani masyarakat.
“Apresiasi untuk semua yang telah melaksanakan tanggung jawabnya. Panggilan nuraninya harus menyelamatkan,” ucapnya.
Hasnan Sutanto




