Home / Berita / Ekonomi / Internasional / Reviews / Teknologi

Kamis, 25 Januari 2018 - 09:55 WIB

Di ASEAN, Serangan Siber Bisa Sebabkan Kerugian USD 750 Miliar

Viewer: 622
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 49 Detik

KompasNasional.com, Jakarta – Serangan siber berpotensi merugikan perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara. Tak tanggung-tanggung, total kerugiannya bisa mencapai US$ 750 miliar. Penelitian ini dilakukan ATKearney dan Cisco. ATKearney, merupakan perusahaan konsultan manajemen global. Sedangkan Cisco adalah perusahaan teknologi keamanan digital global.

Dana Keamanan Siber Masih Sedikit

Pakar komunikasi, media dan teknologi dari ATKearney, Germaine Hoe Yen Yi, menjelaskan bahwa relevansi strategis ASEAN yang sedang berkembang dan didorong oleh ekspansi ekonomi dan adopsi digital dapat menjadi sasaran empuk serangan siber. “Namun, ironisnya, perusahaan-perusahaan di negara ASEAN mengeluarkan dana yang sedikit untuk keamanan siber,” ujarnya saat menyampaikan materi darurat keamanan siber di Asia Tenggara di Jasmine Room, Ayana Mid Plaza Hotel, Selasa, 23 Januari 2018.

Menurut Indonesian Security Incident Response Team on the Internet Infrastructure/ Coordinator Center (Id-SIRTII/CC) terjadi 205 juta lebih serangan siber di Indonesia terhitung sejak Januari hingga November 2017. Serangan terbesar adalah serangan Malware WannaCry terjadi pada Mei 2017 dan berhasil mempengaruhi 12 institusi di seluruh Indonesia di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan dan pelayanan publik.

Baca Juga  Tiga Polres Di Jajaran Polda Kalbar Raih Penghargaan ITK Dengan Kriteria Polres Perbatasan

Menurut Yen Yi, negara di ASEAN saat ini hanya menghabiskan rata-rata 0,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk keamanan siber setiap tabunnya. Dia menyatakan, negara-negara ASEAN perlu meningkatkan pengeluaran mereka antara 0,35 dan 0,61 persen dari PDB antara sepanjang 2018-2025 agar sesuai dengan tolak ukur negara-negara aman serangan siber.

Indonesia Masih Tahap Awal

Dari 10 negara di ASEAN hanya Singapura dan Malaysia yang tergolong maju. Adapun Filipina serta Thailand sudah berkembang di bidang keamanan siber. Sementara Indonesia masih berada di tahap awal, termasuk dalam aturan, pengembangan strategi nasional, tata kelola, kerjasama internasional dan pembangunan. “Untuk mengantisipasi serangan siber, Malaysia saja butuh sekitar 4 ribu lebih ahli keamanan siber pada tahun 2020,” ujar dia.

Baca Juga  Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), H Dolly Pasaribu, SPt, MM, melepas dan mengikuti gerak jalan santai kerukunan yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI,

Presiden Cisco ASEAN, Naveen Menon, mengatakan bahwa keberhasilan digitalisasi negara tergantung pada kemampuannya dalam memerangi ancaman siber. “Di Indonesia, kami telah melihat transformasi digital terjadi di beberapa sektor seperti layanan kesehatan, keuangan dan ritel. Sektor tersebut termasuk sektor yang beresiko terkena serangan siber,” kata Menon.

Menurut Menon, sangat penting bagi para pemangku kepentingan agar bersatu dan membantu membangun kemampuan keamanan siber. Termasuk mengembangkan generasi baru terkait profesional keamanan siber.

[TEM/TR]

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Bhayangkara Muda Kalbar Meraih Penghargaan Internasional Dari PBB

Berita

Wali Kota Pematangsiantar Diwakili Pj.Sekda Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Massal

Berita

Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Bangkitkan Kebersamaan Melalui Karya Bhakti Bersihkan Lapangan Sepak Bola 

Berita

Wali Kota Edi Sampaikan Keberkahan di Bulan Ramadan

Berita

Dandim 1205 Sintang, Hadiri Rapat Koordinasi Kesiapan dan Antisipasi Karhutla

Berita

Satgas Pamtas Yonif 645/GTY Gelar Baksos Bagikan Sembako Untuk Masyarakat di Wilayah Perbatasan RI-MLY 

Berita

Babinsa Koramil 1205-02/Serawai Melaksanakan Patroli dan Sosialisasi Pencegahan Karhutla di Desa Binaan

Berita

Korea Utara Diduga Terkait dengan Peretasan Mata Uang Virtual