Home / Berita

Jumat, 11 Januari 2019 - 16:02 WIB

Peneliti UGM Ubah Limbah Kepiting Jadi Pestisida Ramah Lingkungan

Peneliti sekaligus dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr rer nat Ronny Martien saat menunjukan produk penelitiannya. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Peneliti sekaligus dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr rer nat Ronny Martien saat menunjukan produk penelitiannya. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Viewer: 525
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 32 Detik
KOMPASNASIONAL–Sampah atau limbah akan berguna jika diolah orang yang tepat. Kalimat itu cocok dan melekat pada temuan peneliti sekaligus dosen program pascasarjana S-3 Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ronny Martien.
Ronny memanfaatkan limbah cangkang kepiting dan udang menjadi formula yang mendukung sektor pertanian dan pangan. Dia mengembangkan formula nanokitosan yang terkandung dalam limbah tersebut sebagai zat pengganti pestisida.
“Ini melindungi tanaman menyehatkan tanaman menguatkan tanaman dari hama,” kata Ronny saat dijumpai wartawan di UGM, Jumat (11/1).
Berbeda dengan petisida yang memiliki efek buruk bagi lingkungan, produk temuan Ronny diklaim aman bagi lingkungan dan manusia. Limbah cangkang kepiting dan udang yang mengandung senyawa kitin diolah menjadi kitosan dalam ukuran nano partikel berwujud cair.
Lantaran memiliki kandungan antimikroba maka produk yang diberi nama Dewaruci Chitosan itu mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga tidak menyebabkan buah dan sayur cepat membusuk.
“Selain itu, bersifat non-toksik (tidak beracun), biodegradable (terurai secara alamiah), dan biocompatible (tidak berbahaya bagi makhluk hidup),” katanya. “Cara pengunaannya dapat disemprot juga dikocok. Sangat mudah digunakan. Mengurangi dampak busuk pada pisang dan salak, juga jambu.”

Rebus Kepiting (Foto: Pixabay)

Ronny mengatakan tumbuhan yang disemprot produk temuannnya itu akan langsung terproteksi. “Buah tidak perlu dibungkus. Perbandingannya ini bisa dicampur air 1:30,” kata dia. Penelitiannya itu, kata Ronny, juga sudah diujicobakan di sejumlah daerah seperti perkebunan sayur dan buah Kopeng, Jawa Tengah. Selain itu sekitar 25 hekatare sawah di Lombok Barat juga sudah diujicoba menggunakan produk temuannya itu.
“Hasilnya luar biasa. Tumbuh dengan padat hijau daripada yang tidak disemprot nanokitosan. Sebelumnya 1 hektare menghasilkan 7 ton, kini jadi 13 ton,” katanya.
Selain untuk pertanian, nanokitosan bisa digunankan untuk pengawet organik makanan. Nanokitosan menurut Ronny aman bagi tubuh manusia karena merupakan biopolimer. “Buah-buahan tinggal dibasahi saja bisa awet dan segar lebih lama,” katanya.(Kumparan/AW)
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%
Baca Juga  Pukul Siswanya Yang Kesurupan, Guru SMK Divonis Tiga Bulan Bui

Share :

Baca Juga

Berita

Pengunjung Dan Pedagang Kota Singkawang Wajib Pakai Masker Dan Jaga Jarak Dari Kerumunan Sesuai Perwako No.49 Tahun 2020

Berita

Pembagian BLT-DD Tahap I Tahun 2022, Kades Pakpahan: Kami Cairkan Secara Transparan

Berita

JOKOWI DISAMBUT AKSI DAMAI MASYARAKAT SIRIARIA HUMBAHAS DI TOBA

Berita

Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Karya Bakti Pengecoran Jalan Raya Di Perbatasan 

Berita

Update Gempa Sulbar: 73 Korban Meninggal, Ribuan Jiwa Mengungsi

Berita

Kuker Kapolres Halsel bersama Ketua Bhayangakari Ke Polsek Gane Barat

Berita

Para Srikandi Polres Sintang Patroli Di Perairan, Selingi Dengan Berbagi Sembako

Berita

Pandemi Belum Selesai, GIIAS 2020 Resmi Dibatalkan