
(Foto Istimewa Kompasnasional.com)
HALSEL- Buangan limbah B3 dari hasil pengelolaan tong yang beroprasi di tambang rakyat Desa Kususbibi dapat mengancam jiwa, pasalnya sudah hampir dua bulan warga Desa Kusubibi tidak lagi menginsumsi air bersih yang bersumber dari PDAM
Diketahui Letak tambang rakyat tersebut berada di Desa Kususbibi Kecamatan Bacan Barat, Halsel, Maluku Utara (Malut)
Sejak tambang rakyat beroprasi, masyarakt setempat sangat bersyukur karena potensi sumberdaya alam (SDA) bisa dkelola secara langsung oleh warga.

Namun, belakangan ini potensi sumber daya alam (SDA) itu justru kembali mengancam keselamatan jiwa masyarakat setempat, hal itu disebabkan adanya pencemaran limbah B3 yang sudah terlihat sangat parah.
Bahkan dari hasil investigasi Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia (APRI) Halsel dan sejumlah wartawan, bahwa sudah hampir dua bulan warga tak lagi mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM

(Sudin, Pemilik Tong)
Sementara saat sejumlah wartawan melakukan pemantauan di lokasi tromol atau Glundung, Minggu (20/12). Pencemaran limbah B3 yang paling berbahaya, sebab setiap hujan deras limba hasil pengelolaan material meluap ke sungai hingga masuk ke area pemukiman warga
Sudin, satu diantara empat belas pengusaha tong yang mengelola hasil tambang rakyat, bahwa dirinya memiliki 5 unit tong yang beroprasi di area tambang, sementara lokasi pembuangan limbah miliknya tak terurus karena hanya dibendung dengan tumpukan karung.

(Gudang Milik Hi Komar)
Selain Sudin, ada juga sejumlah pengusaha yang secara terang terangan mengakui bahwa dalam pengelolan emas dengan mengunakan tong, selalu mengunakan campuran cyanida dan mercury
Dari hasil penelururan tersebut, Tim menjumpai salah satu orang kepercayaan pengusaha tong Hi Komar. Ilyas namanya, saat diwawancarai sejumlah media dan pengurus APRI Halsel terkait penggunaan cyanida dan mercury, Ilayas membenarkan bahwa dalam pengelolaan material emas dengan tong, maka campuran cyanida dan merkuri sebanyak 3-5 kg dalam 1 tong
“Tong kita (milil Hi. Komar) ada 5 unit dan setiap operasi itu harus gunakan cyanida 3-5 kg dalam satu tong,”akuinya

(Orang Kepercayaan Ruslan)
Tidak sampai disitu, dari hasil penelusuran Tim, ada juga tong milik Ruslan yang saat itu di jaga oleh Rustam. Bahkan dari pengakuan Rustam bahwa semua tong yang beroperasi itu menggunakan cyanida dan mercury. Namun di sayangkan, para pengusaha tong tidak mengamankan limbah sehingga ketika waktu hujan itu limbahnya meluap keluar.
“Kita ini pemain tong dan posisi kusubibi ini beda dengan tambang rakyat seperti di palu. Kalao di Palu itu limbah diamankan sehingga tidak tercemar tapi di Kusubibi ini limbah bahan berbahaya tidak dilindungi. Jadi, setiap hujan itu limbah pasti bocor keluar,” ujar Rustam

Terpisah, Ketua Adat Desa Kusubibi Hi. Sadek, mengatakan sudah hampir dua bulan warga kusubibi sudah tak lagi mengkonsumsi air yang bersumber dari PDAM. Sebab, warga takut air yang di konsumsi telah tercemari limbah tambang.
“Kami tidak lagi minum Air PAM, alasannya karena takut jangan sampe pipah picah dan limbah masuk di pipa yang picah dan tercampur deng limbah,” Ungkap Hi. Sadek
(Hafik)






