
HALSEL – KOMPAS NASIONAL | Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac Biotech mendapat sorotan dari Himpunan Pelajar Mahasiswa Botang Lomang (Hipmabol) Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara.
Ketua umum Hipmabol Fadli Nasir Kepada Media Sabtu, (16/01/2021) mengatakan menolak keras masuknya Vaksin Sinovac di Kabupaten Halmahera Selatan, terlebih khususnya Kecamatan Kepulauan Botang Lomang dikarenakan pemerintah dinilai gegabah dalam mengeluarkan izin penggunaan Vaksin asal China tersebut.

Menurut Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Botang Lomang yang akrab sapa Adhy Batura dengan mempertimbangkan kebijakan pemerintah dimana telah mengeluarkan izin melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat BPOM ini dinilai cukup merugikan masyarakat. Karena dengan waktu singkat Vaksin Sinovac itu sudah di edarkan ke 30 provinsi di Indonesia bahkan sampai sudah pada tingkat penggunaanya.
Kata Adhy, Pemerintah tidak seharusnya terburu – buru mengeluarkan izin darurat penggunaan Vaksin Virus Corona asal China tersebut, karena sebagian besar masyarakat masih merasah takut terhadap Obat Vaksin tersebut.
“Seperti yang kami ketahui bahwa Badan POM ini adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia nah artinya BPOM sendiri harus lebih jelih melihat hasil uji klinisnya, “tandas Adhy.
” Karena para ahli WHO percaya bahwa semakin tinggi efikasi sebuah vaksin maka akan makin dipercaya vaksin tersebut bisa diedarkan di masyarakat. Tapi apabilah efikasinya rendah, maka kepercayaan publik makin turun sehingga masyarakat tidak berminat menggunakan Vaksin asal China Tersebut, “sambungnya.
Tidak hanya itu, Ketua Umum Hipmabol juga mengunggkapkan timbul keraguan, sebab BPOM sendiri mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization terhadap vaksin Covid-19 Sinovac asal China itu
Sementara seperti diberitakan awak media pers soal vaksin Virus Corona, Negara Asean seperti Singapore mereka telah memutuskan untuk memberikan warganya vaksin yang efikasinya tinggi 93%. Smentara Negara kami Indonesia hanya 65.3%. Hal ini menunjukkan bahwa tinggkat kepedulian pemerintahan Singapore terhadap warganya lebih tinggih dibanding Indonesia yang memberikan vaksin dengan efikasi rendah.
” Olehnya itu dengan presentase di atas kami meminta kepada pemerintah daerah agar setidak harus memaksa masyarakat yang tidak mau divaksinasi baik, “pintah adhy.
Adhy Batura bilang, tolak karena diragukan masukknya vaksin Sinovac di Kabupaten Halmahera Selatan khususnya di Kecamatan Botang lomang,
mengingat penilaian Masyarakat terhadap Vaksin yang masih terjadi Simpang siur bahkan timbul ketakuatan terhadap rendahnya efikasi vaksin Covid-19
” Iya kami cukup meragukan Efikasi Vaksin tersebut sehinggah kami Mahasiswa Botang Lomang menolak keras masukknya Vaksin ke Botang Lomang karena aturannya juga jelas bahwa, penolakan kami berdasarkan UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Bab lll Hak dan Kewajiban bagian kesatu hak pasal 5 poin ke (3) bahwa, setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab atas menentukkan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan baginya, “tutupnya.
(Fana)







