Kompas Nasional I Simalungun
Tidak lazimnya, siswa/siswi berkeliaran pakai Dinas sekolah di tengah Pandemi Cpvid-19.
Faktanya, silih berganti, puluhan siswa/i SMA, SMK dan SMP dari berbagai sekolah asal Kota Siantar-Simalungun, yang duga tergabung dalam ” Geng Pelajar” berdandan seronok berkeliaran di Komplek Rumah Pertokoan (Ruko) Griya, Nagori Siantar Estate Kecamatan Siantar, Sabtu (12/12/2020).
Dari atribut dan dinas sekolah yang dikenakan, siswa/siswi berasal dari SMA Teladan Bangun, SMP Negeri 7 Pematangsiantat, SMP Trisakti, SMP TKJ, SMK N 1, SMK N2, SMA UISU dan dari berbagai sekolah yang tidak memakai seragam.
Pantauan Kompasnasional.com, Sabtu (12/12/2020) hingga pukul 14.35 WIB, beberapa siswa/i tampak dengan bebas keluar masuk Ruko yang sudah kosong hingga naik ke lantai tiga dengan berbagai gaya untuk selfi.
Faktanya, para siswa/i bisa berkumpul dari berbagai sekolah disebut melalui pemberitahuan pertemanan di Facebook dan WA. Hal itu disampaikan salah seorang Siswa SMK N 2 Siantar yang diamini temannya.
“Kita ngumpul melalui facebook dan WA untuk hunting foto saja di Komplek Ruko Griya”, ungkapnya dengan menyedot sebatang rokok di tangannya.
Lain lagi pengakuan siswi SMP Trisakti yang pakai dinas kemeja putih rok biru. Sambil memakai gincu merah dengan santai menjawab pertanyaan awak.media ini. ‘ Yah ngumpul saja sama teman-teman dan mengabadikannya dengan foto,” jawabnya dengan cetus.
Ungkap Fakta, salah seorang Siswa yang nama dan sekolahnya tidak mau disebut, kepada kompasnasional.com mengatakan, saat ini kita menjalani masa-masa sekolah yang tidak aktif. Dari SD, SMP, SMK hngga SMA, baik perempuan maupun laki-laki, kita pasti memiliki teman dekat, bahkan mungkin jumlahnya beberapa orang hingga akhirnya membentuk sebuah sekumpulan teman yang sering bersama-sama ke manapun dan di manapun.
“Kita sekumpulan teman dekat itu biasa kita sebut teman kelompok, yang cenderung memiliki kedekatan emosi, dan memiliki banyak persamaan, entah nasib, kecerdasan, hobi, karakter, sampai status sosial atau ekonomi,” ungkapnya.
Menurutnya, kelompok ini kelompok anak sekolah yang masih biasa-biasa saja atau bersikap sewajarnya saja, dalam arti hanya berkumpul dan bersama-sama, lalu masih berbaur dan berkumpul dengan anak lain yang di luar kumpulannya.
Lanjutnya, hal ngumpul di Roko Griya berawal dari postingan foto teman di facebook. Karena merasa woow, teman yang lain pun merespon dan hunting lokasi sekaligus hunting foto.
Namun ada juga geng yang sangat “eksklusif”, dalam arti hanya mau menerima dan bersama teman yang berada dalam gengnya, lalu menutup rapat keberadaan anak lain di luar kelompoknya.
Hal ini memang terlihat sangat sepele dan tidak masuk akal bagi orang dewasa, namun bagi anak seumuran mereka, itu adalah hal nyata dan yang cukup lumrah, kata Anto di salah satu warung kopi di Griya melihat tingkah laku siswa/i yang berseleweran.
Kata Anto, terlebih lagi bagi anak ABG hingga remaja yang masih mencari “identitas diri” atau jati diri, memiliki geng, terutama sekumpulan anak yang dianggap “hebat” atau “populer” adalah hal yang luar biasa dan membanggakan, bahkan mungkin bisa dianggap menyamai prestasi akademik sekolah.
Karena itu bagi Anak SMP dan Anak SMA, sebuah geng seringkali dianggap lebih dari “keluarga”, sehingga harus mendapat perlakuan dan penghargaan yang luar biasa baik dari sesama anggota, maupun dari orang lain, atau merasa kedudukan dan status mereka lebih dari kelompok lain.
Mereka pun memiliki “peraturan tersendiri” yang tidak hanya mengikat kumpulan geng itu sendiri, namun juga untuk anak lain di luar kelompoknya. Tak peduli apapun pendapat orang lain, ataupun kondisi orang lain. Bagi mereka, yang terpenting dan utama adalah “kepentingan” mereka sendiri, kata Anto. (Son)
Editor : Nilson Pakpahan








