Jakarta, JejakNasional – Petugas Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Meratus menghadapi kendala akses saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Minggu (11/10/2026).
Petugas bahkan harus berjalan kaki hampir satu kilometer untuk mencapai titik api karena kendaraan tidak bisa masuk ke lokasi kebakaran.
Selain akses yang sulit, keterbatasan sumber air juga menjadi kendala dalam proses pemadaman. Petugas harus bekerja hingga malam hari untuk memastikan api di salah satu lokasi berhasil dipadamkan.
Kasi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan KPHP Meratus, Fajeriansyah, mengatakan timnya menangani kebakaran lahan di tiga lokasi di Kukar pada hari tersebut.
Pemadaman Berlangsung hingga Malam
Laporan kebakaran pertama diterima Posko KPHP Meratus sekitar pukul 15.00 Wita. Tim kemudian mengerahkan satu unit kendaraan slip on dengan tiga personel menuju lokasi. Api di lokasi pertama berhasil dipadamkan melalui kerja sama dengan unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Kukar dan relawan.
“Api berhasil dipadamkan berkat kerja sama dengan unit Damkar Kukar dan relawan,” kata Fajeriansyah, dikutip dari Tribun Kaltim, Senin (12/10/2026). Sekitar pukul 16.10 Wita, tim kembali menerima laporan kebakaran lahan dari aparatur Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang.
Kebakaran tersebut terjadi di wilayah RT 1. Personel KPHP Meratus kemudian bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman bersama petugas Damkar Kukar. Api di lokasi ini berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.30 Wita. Pada waktu bersamaan, kebakaran juga terjadi di kawasan perbatasan Desa Teluk Dalam dan Desa Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang.
Besarnya kobaran api membuat proses pemadaman di lokasi tersebut berlangsung lebih lama. Petugas baru berhasil memadamkan api sekitar pukul 22.00 Wita.
Kendaraan Tak Bisa Menjangkau Titik Api
Fajeriansyah menjelaskan, keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju titik api menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla di Kukar.
Kondisi medan membuat kendaraan tidak dapat menjangkau lokasi kebakaran. Akibatnya, personel harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hampir satu kilometer untuk mencapai titik api.
“Kendala yang dihadapi di lapangan adalah sumber air dan akses menuju titik api. Kendaraan tidak bisa masuk, sehingga personel harus berjalan kaki hampir satu kilometer untuk mencapai lokasi,” bebernya.
Untuk menangani kebakaran di tiga lokasi tersebut, KPHP Meratus mengerahkan 22 personel dengan dukungan tiga unit kendaraan slip on, dua unit mobil dobel kabin, 20 selang, tiga unit pompa Minitrek, serta 10 pompa punggung.
Upaya pemadaman juga melibatkan masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api (MPA) Timbau dan MPA Rempanga. Para relawan membantu personel KPHP Meratus dalam menangani kebakaran lahan.
Fajeriansyah menekankan pentingnya kelengkapan peralatan dan keselamatan personel, terutama relawan yang terlibat langsung dalam pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau.
Ia juga berharap pemerintah maupun pihak swasta dapat memberikan bantuan insentif bagi para relawan untuk mendukung kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Kualitas Udara Kukar Masuk Kategori Tidak Sehat
Di tengah kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah lokasi, kualitas udara di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, juga menjadi perhatian. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim mencatat kualitas udara di Kukar sempat berada dalam kategori Tidak Sehat akibat kabut asap karhutla.
Kepala DLH Kaltim, Joko Istanto, mengatakan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebab utama memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah di Kaltim.
“Fluktuasi angka partikulat cukup mengkhawatirkan, bahkan Kabupaten Kutai Barat sempat menembus kategori Berbahaya akibat kepungan asap,” kata Joko, Minggu (11/10/2026).
Selain Kutai Barat, pemantauan juga menunjukkan kualitas udara di Kabupaten Berau dan Kutai Kartanegara sempat berada dalam kategori Tidak Sehat.
DLH Kaltim mengimbau masyarakat, terutama anak-anak dan lanjut usia (lansia), untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat juga disarankan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah guna mengurangi paparan partikel pencemar dari kabut asap.
(YA/JJN)






